Hari kamis pun
telah tiba, pelajaran Mikrokontroller pun sudah ditunggu sejak lama(gak nyampek
bertahun-tahun kok). Mau tau kenapa pelajaran ini ditunggu? ya mungkin
ruangannya AC kalik, soalnya di kelas AC nya lagi rusak. Eh, tapi kalau yang lagi
baca punya alasan tersendiri, sambil baca sambil diganti dengan alasan sendiri
aja ya.
Pak Mahendra
selaku dosen Mata Kuliah tersebut mempersiapkan materi untuk hari ini.
Disamping yang lainnya menyiapkan untuk pelajaran hari ini, terlihat sekolompok
mahasiswi, Sari, Citra dan Lena sedang berdiskusi(itu mah bahasa pendidikan
aja, ya kalau kerennya NGERUMPI).
Sari termenung
sejenak mengingat apa yang diceritakan oleh kepala Sekolahnya sewaktu SMK.
Ceritanya pun membuatnya malu sendiri dengan teman-teman sekelasnya.
Back to hari Rabu.....
“Disekolah kami banyak sekali pohon mangga, Cuma tidak pernah panen. Ya karena
siswa sering mengambilnya. Kalau tidak ada guru, mereka mengambil mangga yang
masih muda. Buah mangga tersebut mereka selipkan dipintu, lalu mereka membeli
Masako dan dibuatlah rujak." ujar Pak Sehat.
“Aduh, itu emang kerjaan saya!” bisik Sari dengan raut muka malu.
“Hahahaha, kerjaan Sari itu !” ledek Desi.
“Apaan sih Des, jangan suka sembarangan deh !”
Back to hari
Kamis. Kembali ke cerita awal. Sari pun berkhayal sejenak.
“Jadi keinget deh waktu sekolah dulu !”
“Kenapa ?” tanya Citra dengan raut muka datar.
“Enggak ada sih mbak, waktu Pak Selamat cerita. Aku keinget aja waktu sekolah dulu”
“Hahaha, iya !”
“Eh, banyak banget kerjaan waktu SD, sama SMK. Kalau SMP aku gak ada cerita”
“Iya, seru banget. Apalagi waktu SD”
“Iya mbak. Waktu aku SD, banyak sekali kerjaan kami. Kami sering main karet, beong(sebutan untuk daerah Sekayu),
kelereng, ambulan(mainan kertas bergambar). Setelah itu diambil guru, terus diberikan dengan anaknya” . Cerita Sari panjang lebar.
“Hahaha....” tawa Lena kegirangan.
Citra pun menceritakan apa yang pernah Ia lakukan dulu.
Citra pun menceritakan apa yang pernah Ia lakukan dulu.
“Hahaha....Kami suka main bola kasti”
“Iya, kami juga suka sekopi angat(pukulan yang keras). Sakit banget, kena punggung” . Kata Sari
“Kami juga banyak kerjaan, main jerjer(lompat kotak), sama yang kotak ada tulisan polisi nya” Seru Lena
“Kami juga. Terus kami sering pulang kerumah kalau jam istirahat”
Citra pun penasaran dengan apa yang Sari ceritakan.
Citra pun penasaran dengan apa yang Sari ceritakan.
“Emang deket ?” tanya Citra.
“Iya deket, kan sekomplek dengan remah aku”
“Hahaha, kami juga. Kan deket banget sama rumah aku” Potong Lena tidak mau ketinggalan.
“Hahaha, iya kalu lonceng berbunyi baru dateng ke sekolah !” ledek Sari
“Hehehe... iya” (diiringi senyum manisnya)
“Kalau kami gak pulang, kami suka muter-muter aja” kata Citra
Rumpian merakun
semakin hot(eh bukannya infotaiment). Mereka pun tidak memperhatikan kegiatan
teman-teman yang lainnya.Sari pun melanjutkan ceritanya.
“Nah dem tu ek, ade guru kami yang ilang pena. Datang e dambek e galek pena kami”
“Oh ek, kami suek ai guru mitu” jawab Lena keheranan.
“Masih ada sekarang, Cuma uda pindah aja. Ada temen aku yang pinter badan pena nya aja yang dia berikan, sedangkan isi nya dia simpan”
“Hahahah.....”Citra tertawa terbahak
“Pinter juga dia, termasuk orang yang hebat SD uda kepikir yang kayak gitu” . Jawab Lena kagum
“Iya, kami bilang gak kasih tahu. Katanya aku gak mau lah kasih pena aku, mana masih baru” jelas Sari
“Hahaha....”
Didalam rumpian
tersebut, mereka dikejutkan dengan absen. Rumpian mereka pun pecah (bukan
program kuliner, yang kalimatnya “Demen makan, demen banget. PECAH !).
Pelajaran pun dimulai.
Hari menunjukkan
pukul 15.00, pelajaran untuk hari ini pun usai. Mahasiswa begitu riang gembira
(gak kayak anak TK kok). Terlihat dua mahasiswi yang bisa dibilang paling cepat,
Sari dan Rica.
“Ayo sok angkat jemuran !” ajak Sari
“Ayo !” jawab Rica
Mereka berdua
pun menuju jemuran yang cukup jauh (kalo mau tau jalannya, bisa minta bantuan
pada Dora).
Setelah
mengambil jemuran dan setibanya mereka di asrama, mereka dengan bingung
bertambah terkejut (eh terkejut enggak deh kayaknya).
“Loh sok, apa kita mau briping ya ?” tanya Sari
“Enggak tahu, ayo kesana ! kita modus” jawab Rica bingung
“Ayo, mau masukin baju dulu ke kamar”
Sari pun
bergegas menuju kamarnya. Rica pun berteriak.
“Opek ! punya ku juga”
“Iya, masukin aja di kamar”
Mereka berdua
pun langsung kedepan bengkel TP dimana anak TI.1 berkumpul. Sari pun
kelihatannya begitu senang. Ya mungkin karena ada kakak Manis (julukan untuk
kakak yang sering dia panggil dulu, tapi sekarang gak lagi).
Setelah tiba
disana, anak TI. 1 pun langsung menuju ke lapangan belakang asrama putri
semester 3. Sekian lama mereka memperhatikan TI.1 yang sedang mendapatkan
pengarahan dari kakak Bayu, mereka mulai bosan. Akhirnya mereka menuju mamang
Kiyen untuk membeli pentol.
Sari pun tidak
ketinggalan membeli pentol. Setelah membeli pentol, Sari pun kembali ke
lapangan.
Dengan banyak
gayanya, untuk duduk pun Sari mengangkat tinggi kaki kanannya untuk disilangkan
di kaki kirinya. Tiba-tiba.... whuuussss !! sepatunya terlempar kebelakang.
“Nah, dimana sepatu ku?”gumam Sari dengan wajah yang cukup bingung
“Hahaha, gimana sih Opek !” seru Mardhia dari kejauhan
Ternyata
Citra menyadari kejadian itu(ya iyalah, Citra nya berada dibelakang Sari).
Dengan sengaja Citra pun menendang sepatu itu kedepan.
“Jangan mbak !” teriak Sari dengan melempar sepatu yang satunya
Jarak sepatu
yang pertama dan kedua cukup jauh. Sari pun langsung menuju tiap sepatu
tersebut untuk mengambilnya. Sepatu lemparan kedua pun telah Ia ambil. Nah,
sepatu lemparan pertama pun cukup jauh. Sari pun kebingungan karena takut kaos
kakinya kotor(padahal uda kotor, karena uda dipakai dua hari).
Tanpa berpikir
panjang lagi, Sari pun langsung mengambil pasangan sepatu tersebut. Bisa kalian
bayangkan, Sari mengambil pasangan sepatu tersebut dengan pincang seperti kaki
kanannya lebih panjang dari kaki kirinya. Mardhia pun tertawa.
“Hahahaha...... kok gitu opek ?”
“Ya ibarat kan aja sepatu ini high heels tinggi 17cm, jadi tingginya gak sama”. (kebayangkan tingginya segitu). jelas Sari dengan wajah seriusnya.
Semua
teman-temannya pun tertawa terbahak-bahak. Ya yang paling jelas tawa Citra deh
kayak nya.
Sari
pun sudah memasang sepasang sepatunya. Sari pun kembali duduk sambil menikmati
pentol dan esnya. Sekian lama menikmati kuliner (pakai kuliner, ya biar
kalimatnya kelihatan keren aja) Sari pun kembali menuju asrama karena sudah
begitu sore.
TAMAT
@created by Sarilia
0 komentar:
Posting Komentar