Senin, 09 Maret 2015

Tangisan Berujung Senyuman



          Pukul menunjukkan jam 15.50, jam kuliah pun telah berakhir. Mahasiswa penuh suka cita menyambut jam  pulang yang sudah ditunggu sejak lama. Cuaca pun cukup terik menyengat seluruh tubuh. Tetapi tidak ada yang merasa terganggu dengan cuaca tersebut. Tidak sedikit pula mahasiswi yang mengeluh dengan cuaca tersebut.
           Terlihat seorang mahasiswi sebutlah nama nya Selasa, Ia terlihat begitu gembiranya sepulang kuliah. Ia tidak menghiraukan cuaca yang cukup terik. Sangat terlihat jelas diwajahnya bahwa ada sesuatu yang sudah tersimpan begitu lama, bisa jadi yang Ia rasakan adalah hal yang sangat mengembirakan. Ia menjalin hubungan yang baik dengan mantan nya yang bernama Ahmad. Hubungan baik itu sudah terjalin sejak lama, beberapa tahun yang lalu.
          Dulu hubungan mereka lumayan baik sebelum akhirnya kandas di tengah jalan dikarenakan suatu hal yang tidak dapat dijelaskan kenapa. Oleh karena itu hubungan baik itu tetap terjalin hingga sekarang. Tidak ada kata pemutusan jalinan silahturahmi diantara mereka. Setiap ada yang tidak memberikan kabar apapun, pasti salah satu mereka akan memulai menanyakan kabar.
           Sekarang mereka berhubungan jarak jauh, Selasa memutuskan untuk kuliah di salah satu universitas di dekat rumahnya. Sedangkan Ahmad sebernarnya memiliki keinginan yang sama dengan Selasa, tetapi takdir berkata lain. Ahmad tidak lulus tes masuk Universitas tersebut. Dan sekarang Ia pun memilih jalan lain yang mungkin akan lebih baik untuk masa depannya. Ia tidak ingin terpuruk terlalu lama karena kegagalan kecil. Sekarang Ia merantau ke salah satu kota besar yang cukup terkenal. Ia bekerja disalah satu mall terkenal di kota tersebut, Ia bekerja sebagai karyawan di salah satu outlet.
***
            Setiap hari Selasa berharap agar bisa bertemu kembali dengan Ahmad. Ia merasa sangat merindukan Ahmad. Namun akhirnya harapan dan penantian itu berakhir. Sang pangeran Ahmad akhirnya memberitahukan bahwa ia akan pulang ke kampung halamanya. Tetapi hanya dua hari, begitu singkatnya pikir Selasa.
“Hari Senin aku pulang, maaf yang kemarin aku pulangnya hanya satu hari”
          Sebelumnya mereka sempat akan bertemu. Selasa begitu gembira mendengar kabar tersebut, namun akhirnya pertemuan itu gagal. Ahmad tidak memberikan informasi apapun. Selasa pun begitu kecewa dengan hal tersebut. Tetapi Selasa tetap yakin bahwa Tuhan mempunyai maksud yang lebih baik.
          Dengan adanya kejadian tersebut, Selasa tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya. Ia sangat berharap Ahmad bisa menepati janjinya. Selasa menunggu dengan ikhlasnya kedatangan Ahmad yang sudah lama dinanti. Selasa tidak pernah berhenti berharap.
       Akhirnya hari itu pun tiba, namun Ahmad tidak memberikan kabar kedatangannya. Selasa merasa sangat penasaran. Karena Ia tidak ingin kejadian yang kemarin terjadi kembali. Selasa pun mengirimkan pesan kepada Ahmad.
Apakah kamu sudah datang ?.” Kata Selasa didalam pesan singkatnya.
“Iya aku sudah datang tadi pagi. Besok ya kita ketemu.” Balas Ahmad.
            Selasa begitu senang dengan balasan Ahmad tersebut. Rasanya Ia ingin waktu hari itu cepat berlalu.
         Hari esok pun telah tiba, Selasa dengan senangnya berangkat kuliah. Tidak ada rasa sedih, galau, gelisa yang terpancar di mukanya. Waktupun berlalu begitu cepat, hingga akhirnya tiba waktu pulang. Setibanya di asrama, Selasa memeriksa HP yang ditinggalkannya di asrama. Begitu terkejutnya Selasa melihat pesan yang dikirim oleh Ahmad.
“Malam nanti aku gak bisa, jam 7 aku berangkat ke Jakarta.”
          Sambil terdiam, tidak terasa air mata Selasa berlinang. Tiba-tiba datang temannya menanyakan kenapa Ia menangis.
“Kamu kenapa ?.” , tanya Novi dengan penuh rasa simpati.
“Ketemu nya gak jadi, sebelumnya aku sudah ngerasa kalau bakalan kayak kejadian yang kemarin.” , dengan suara yang terisak.
“Sudah, mungkin dia ingin memberikan kejutan.” Jawab Novi untuk menenangkan.
“Enggak mungkin Nov, emang dari dulu dia suka plin plan. Uda ngomongnya kayak gak bakalan ngelanggar, eh gak taunya gak jadi.” Jawab Selasa menjelaskan.
“Sudah, kamu yang sabar ya.”
            Selasa pun menangis dengan sekencang-kencangnya. Ia tidak bisa menahan sesak yang ada di dalam hatinya. Rasanya ingin meluapkan semua amarah yang sudah membara. Ia pun mengecek kembali pesan yang masuk, ternyata Ahmad mengirimkan dua pesan. Selasa membaca pesan kedua yang masuk. Ternyata Ia belum membaca pesan yang pertama.
“Nanti malam ya, jam 7!”
            Tanpa disengaja sebenarnya Selasa melakukan hal yang benar, Ia membaca pesan yang membuatnya sedih terebih dahulu. Selasa pun langsung membalas pesan Ahmad.
“Aku sudah pulang kuliah.” Kata Selasa diiringi dengan rasa kesal.
“Nanti sore kita ketemu!.”
“Owh, ya udah.”
            Akhirnya kesedihan Selasa mulai pudar, Senyum indah nya kembali terpancar dari raut mukanya. Selasa pun menunggu untuk kesekian kalinya perkataan Ahmad. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Selasa masih dihantui oleh rasa gelisah yang tidak menentu. Namun kesedihan yang mulai memudar kembali terpancar dikarenakan pesan yang dikirim oleh Ahmad.
“Maaf,aku gak jadi ketemu kamu sore ini. Soalnya aku mau packing untuk keberangkatan”
            Untuk kali ini Selasa tidak bisa menahan amarah yang sudah bergejolak. Ia pun meluapkan kemarahannya dengan balasan pesan penuh kemarahan.
“Mau kamu apasih?. Aku gak ngerti sama kamu. Kamu itu dari dulu emang gak pernah berubah, plin plan. Gak tau deh!.”
“Kamu sih bales sms nya lama banget.”
“Aku kuliah, HP ku gak aku bawa”
“Nanti malem jam 7, doain aja gak hujan”
            Selasa begitu kaget melihan isi pesan yang dikirim oleh Ahmad. Selasa tidak menghiraukan janji bertemu itu. Dengan kesalnya Selasa membalas pesan tersebut.
“Kamu itu memang gak berubah dari dulu. Sms ngomong nya nanti malem jam 7 ketemu, setelah itu sms lagi gak jadi ketemunya,aku berangkat jam 7 malem nanti. Tidak cukup sebatas itu, sms lagi nanti sore kita ketemu,terus sms lagi aku mau packing.nah sekarang bilangnya nanti malem jam 7. Jadi mau kamu itu apa?.”
            Pesan tersebutnya tidak dibalas oleh Ahmad lagi. Selasa pun mulai merasa membuat kesalahan.    
            Selasa pun menceritakan kejadian itu dengan seseorang, bisa dibilang orang yang sifatnya lebih dewasa dari dirinya. Orang tersebut pun memberikan solusi yang baik. Akhirnya amarah selasa mulai mereda. Selasa pun mengirimkan pesan kembali kepada Ahmad.
“Jadi gimana?.”
“Nanti malem.”
“Jam berapa?”
            Namun pesan tersebut tidak dibalas oleh Ahmad. Selasa pun tidak menghiraukan nya, Ia pun hanya menunggu. Pukul sudah menunjukkan jam 20.02, tetapi Ahmad tidak kunjung datang. Air mata Selasa terus bercucuran. Namun tiba-tiba Selasa dikejutkan dengan sms yang dikirimkan oleh Ahmad.
“Aku uda di depan!.”
“Owh,tunggu!”. Jawab Selasa dengan rasa yang kurang semangat.
            Selasa pun berdandan dengan senatural mungkin. Namun ada dua temannya yang ikut, Kedua temannya itu begitu penasaran melihat sosok Ahmad. Namun mereka tidak sepenuhnya mengikuti Selasa. Mereka bertiga pun menuju arah depan kampus. Disamping itu Selasa Sms-an dengan Ahmad.
“Cepat, aku uda di depan rumah kamu.” Balas Ahmad dengan nada kesal.
“Aku di asrama!.”
“Bilang kalau kamu di asrama, aku uda kerumah kamu.”
“Aku sekarang di halte deket kampus.”
            Tidak lama kemudian Ahmad tiba. Keduanya memasang muka kesal. Namun Ahmad memecahkan suasana tersebut.
“Aku tadi kerumah kamu, mungkin aku sudah salah rumah.”
“Kan aku uda bilang kalau aku di asrama.”
“Kamu gak bilang kok, gak ada kamu sms aku.”
“Ada, mungkin gak terkirim aja.”
            Cukup lama pertengkaran itu terjadi, tidak lupa diselangi dengan suasana hening. Tampak dari kejauhan kedua teman Selasa berjalan kearah mereka. Ahmad pun bertanya dengan Selasa.
“Mereka teman kamu ya?.”
“Iya,teman seasrama aku”. Jawab Selasa.
            Mawar dan Melati pun melewati mereka berdua dengan memperhatikan wajah Ahmad. Tiba-tiba Mawar dan Melati dikejutkan dengan pertanyaan yang dilontarkan Selasa.
“Mau kemana?”
“Mau kewarung.”, Jawab Mawar.
            Sebenarnya yang ada di pikiran Mawar dan Melati adalah tidak mengenal Selasa sama sekali, tetapi Selasa tidak mengetahui hal tersebut.
“Eh,makan yuk!.” Ajak Ahmad.
“Boleh,dimana?”
“Disini aja, nasi goring. Dari pada disini gelap. Tapi kamu aja ya yang makan,aku uda kenyang”
“Kamu gimana sih, makan aja”
            Selasa pun langsung melangkahkan kakinya menuju penjual pecel lele. Ia pun menunggu Ahmad memarkirkan motornya.
“Eh,kamu aja yang pesan.” Kata Selasa dengan malu.
            Ahmad pun memesan satu nasi goreng. Beberapa menit kemudian, nasi goreng pun datang. Dan ternyata nasi goreng yang datang ada dua. Ahmad pun terkejut, namun akhirnya Ahmad pun memakan nasi goreng tersebut. Disela mereka menyantap nasi goreng tersebut, Ahmad menceritakan pekerjaannya.
“Gimana kerjaan kamu?.”
“Lumayam, enak kok.”
            Percakapan mereka pun semakin menarik, tidak ada lagi perasaan kesal satu sama lain. Nasi goreng pun sudah habis. Tetapi mereka tetap share cerita masing-masing. Selasa pun memotong pembicaraan Ahmad.
“Eh, pergi yuk!, gak enak. Orang lain mau makan juga”
“Biarin aja !”
“Tapi kan uda rame nih, kita pergi aja!”
“Ya deh, eh kita ke Alun-alun aja yuk!” Dengan berat hati.
“Yuk..!”
            Mereka pun beranjak pergi dari tempat Pecel Lele. Ahmad bergegas menuju parkiran motor yang tidak terlalu rame. Dengan biasanya Ia menghidupkan mesin motor. Pergerakan motor pun penuh hati-hati, karena jalan menuju ke jalan raya tidak terlalu bagus. Dari kejauhan Selasa sudah menunggu Ahmad dengan motornya di pinggir jalan. Terlihat jelas raut muka Selasa yang begitu senang. Tidak lama menunggu, Ahmad pun tiba. Dengan senang hati Selasa naik ke motor Ahmad. Mereka pun berjalan dengan santainya. Tidak sebatas di tempat Pecel Lele, percakapan mereka pun berlanjut di atas motor.
            Singkat cerita, sudah hampir sampai ke alun-alun, namun mereka tidak sempat mampir, dikarenakan hari sudah cukup larut malam. Selasa pun memberi tahu kepada Ahmad untuk pulang. Ahmad pun mensetujui itu, karena rumah nya cukup jauh. Dan besok juga Ahmad akan berangkat ke Jakarta.
            Pertemuan mereka yang sudah lama dinanti akhirnya bisa terwujud. Namun pertemuan itu tidak terjadi begitu saja. Banyak halangan yang dihadapi oleh Selasa. Air mata nya pun kalau dihitung tidak pernah terhitung berapa banyak jatuh di pipi manis Selasa.
            Ada kata-kata “Kebahagiaan yang benar-benar dikatakan bahagia adalah kebahagian yang didapatkan dari halangan dan rintangan yang diperjuangkan sebelumnya.”
***
Tamat


0 komentar:

Posting Komentar