Pukul menunjukkan jam 15.50, jam
kuliah pun telah berakhir. Mahasiswa penuh suka cita menyambut jam pulang yang sudah ditunggu sejak lama. Cuaca
pun cukup terik menyengat seluruh tubuh. Tetapi tidak ada yang merasa terganggu
dengan cuaca tersebut. Tidak sedikit pula mahasiswi yang mengeluh dengan cuaca
tersebut.
Terlihat seorang mahasiswi sebutlah
nama nya Selasa, Ia terlihat begitu gembiranya sepulang kuliah. Ia tidak
menghiraukan cuaca yang cukup terik. Sangat terlihat jelas diwajahnya bahwa ada
sesuatu yang sudah tersimpan begitu lama, bisa jadi yang Ia rasakan adalah hal
yang sangat mengembirakan. Ia menjalin hubungan yang baik dengan mantan nya
yang bernama Ahmad. Hubungan baik itu sudah terjalin sejak lama, beberapa tahun
yang lalu.
Dulu hubungan mereka lumayan baik
sebelum akhirnya kandas di tengah jalan dikarenakan suatu hal yang tidak dapat
dijelaskan kenapa. Oleh karena itu hubungan baik itu tetap terjalin hingga
sekarang. Tidak ada kata pemutusan jalinan silahturahmi diantara mereka. Setiap
ada yang tidak memberikan kabar apapun, pasti salah satu mereka akan memulai
menanyakan kabar.
Sekarang mereka berhubungan jarak
jauh, Selasa memutuskan untuk kuliah di salah satu universitas di dekat
rumahnya. Sedangkan Ahmad sebernarnya memiliki keinginan yang sama dengan
Selasa, tetapi takdir berkata lain. Ahmad tidak lulus tes masuk Universitas
tersebut. Dan sekarang Ia pun memilih jalan lain yang mungkin akan lebih baik
untuk masa depannya. Ia tidak ingin terpuruk terlalu lama karena kegagalan
kecil. Sekarang Ia merantau ke salah satu kota besar yang cukup terkenal. Ia
bekerja disalah satu mall terkenal di kota tersebut, Ia bekerja sebagai
karyawan di salah satu outlet.
***
Setiap hari Selasa berharap agar
bisa bertemu kembali dengan Ahmad. Ia merasa sangat merindukan Ahmad. Namun
akhirnya harapan dan penantian itu berakhir. Sang pangeran Ahmad akhirnya
memberitahukan bahwa ia akan pulang ke kampung halamanya. Tetapi hanya dua
hari, begitu singkatnya pikir Selasa.
“Hari
Senin aku pulang, maaf yang kemarin aku pulangnya hanya satu hari”
Sebelumnya mereka sempat akan
bertemu. Selasa begitu gembira mendengar kabar tersebut, namun akhirnya
pertemuan itu gagal. Ahmad tidak memberikan informasi apapun. Selasa pun begitu
kecewa dengan hal tersebut. Tetapi Selasa tetap yakin bahwa Tuhan mempunyai
maksud yang lebih baik.
Dengan adanya kejadian tersebut,
Selasa tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya. Ia sangat berharap Ahmad bisa
menepati janjinya. Selasa menunggu dengan ikhlasnya kedatangan Ahmad yang sudah
lama dinanti. Selasa tidak pernah berhenti berharap.
Akhirnya hari itu pun tiba, namun
Ahmad tidak memberikan kabar kedatangannya. Selasa merasa sangat penasaran.
Karena Ia tidak ingin kejadian yang kemarin terjadi kembali. Selasa pun
mengirimkan pesan kepada Ahmad.
“Apakah kamu sudah datang ?.” Kata Selasa didalam pesan singkatnya.
“Iya
aku sudah datang tadi pagi. Besok ya kita ketemu.” Balas
Ahmad.
Selasa begitu senang dengan balasan
Ahmad tersebut. Rasanya Ia ingin waktu hari itu cepat berlalu.
Hari esok pun telah tiba, Selasa
dengan senangnya berangkat kuliah. Tidak ada rasa sedih, galau, gelisa yang
terpancar di mukanya. Waktupun berlalu begitu cepat, hingga akhirnya tiba waktu
pulang. Setibanya di asrama, Selasa memeriksa HP yang ditinggalkannya di
asrama. Begitu terkejutnya Selasa melihat pesan yang dikirim oleh Ahmad.
“Malam
nanti aku gak bisa, jam 7 aku berangkat ke Jakarta.”
Sambil terdiam, tidak terasa air
mata Selasa berlinang. Tiba-tiba datang temannya menanyakan kenapa Ia menangis.
“Kamu
kenapa ?.” , tanya Novi dengan penuh rasa simpati.
“Ketemu
nya gak jadi, sebelumnya aku sudah ngerasa kalau bakalan kayak kejadian yang
kemarin.” , dengan suara yang terisak.
“Sudah,
mungkin dia ingin memberikan kejutan.” Jawab Novi untuk menenangkan.
“Enggak
mungkin Nov, emang dari dulu dia suka plin plan. Uda ngomongnya kayak gak
bakalan ngelanggar, eh gak taunya gak jadi.” Jawab Selasa menjelaskan.
“Sudah,
kamu yang sabar ya.”
Selasa pun menangis dengan
sekencang-kencangnya. Ia tidak bisa menahan sesak yang ada di dalam hatinya.
Rasanya ingin meluapkan semua amarah yang sudah membara. Ia pun mengecek
kembali pesan yang masuk, ternyata Ahmad mengirimkan dua pesan. Selasa membaca
pesan kedua yang masuk. Ternyata Ia belum membaca pesan yang pertama.
“Nanti
malam ya, jam 7!”
Tanpa disengaja sebenarnya Selasa
melakukan hal yang benar, Ia membaca pesan yang membuatnya sedih terebih
dahulu. Selasa pun langsung membalas pesan Ahmad.
“Aku
sudah pulang kuliah.” Kata Selasa diiringi dengan rasa kesal.
“Nanti
sore kita ketemu!.”
“Owh,
ya udah.”
Akhirnya kesedihan Selasa mulai
pudar, Senyum indah nya kembali terpancar dari raut mukanya. Selasa pun
menunggu untuk kesekian kalinya perkataan Ahmad. Tidak terasa waktu berlalu
begitu cepat, Selasa masih dihantui oleh rasa gelisah yang tidak menentu. Namun
kesedihan yang mulai memudar kembali terpancar dikarenakan pesan yang dikirim
oleh Ahmad.
“Maaf,aku
gak jadi ketemu kamu sore ini. Soalnya aku mau packing untuk keberangkatan”
Untuk kali ini Selasa tidak bisa
menahan amarah yang sudah bergejolak. Ia pun meluapkan kemarahannya dengan
balasan pesan penuh kemarahan.
“Mau
kamu apasih?. Aku gak ngerti sama kamu. Kamu itu dari dulu emang gak pernah
berubah, plin plan. Gak tau deh!.”
“Kamu
sih bales sms nya lama banget.”
“Aku
kuliah, HP ku gak aku bawa”
“Nanti
malem jam 7, doain aja gak hujan”
Selasa begitu kaget melihan isi
pesan yang dikirim oleh Ahmad. Selasa tidak menghiraukan janji bertemu itu.
Dengan kesalnya Selasa membalas pesan tersebut.
“Kamu itu memang gak berubah dari
dulu. Sms ngomong nya nanti malem jam 7 ketemu, setelah itu sms lagi gak jadi
ketemunya,aku berangkat jam 7 malem nanti. Tidak cukup sebatas itu, sms lagi
nanti sore kita ketemu,terus sms lagi aku mau packing.nah sekarang bilangnya
nanti malem jam 7. Jadi mau kamu itu apa?.”
Pesan tersebutnya tidak dibalas oleh
Ahmad lagi. Selasa pun mulai merasa membuat kesalahan.
Selasa pun menceritakan kejadian itu
dengan seseorang, bisa dibilang orang yang sifatnya lebih dewasa dari dirinya.
Orang tersebut pun memberikan solusi yang baik. Akhirnya amarah selasa mulai
mereda. Selasa pun mengirimkan pesan kembali kepada Ahmad.
“Jadi
gimana?.”
“Nanti
malem.”
“Jam
berapa?”
Namun pesan tersebut tidak dibalas
oleh Ahmad. Selasa pun tidak menghiraukan nya, Ia pun hanya menunggu. Pukul
sudah menunjukkan jam 20.02, tetapi Ahmad tidak kunjung datang. Air mata Selasa
terus bercucuran. Namun tiba-tiba Selasa dikejutkan dengan sms yang dikirimkan
oleh Ahmad.
“Aku
uda di depan!.”
“Owh,tunggu!”.
Jawab
Selasa dengan rasa yang kurang semangat.
Selasa pun berdandan dengan
senatural mungkin. Namun ada dua temannya yang ikut, Kedua temannya itu begitu
penasaran melihat sosok Ahmad. Namun mereka tidak sepenuhnya mengikuti Selasa.
Mereka bertiga pun menuju arah depan kampus. Disamping itu Selasa Sms-an dengan
Ahmad.
“Cepat, aku uda di
depan rumah kamu.” Balas Ahmad dengan nada kesal.
“Aku di asrama!.”
“Bilang kalau kamu di
asrama, aku uda kerumah kamu.”
“Aku sekarang di halte
deket kampus.”
Tidak lama kemudian Ahmad tiba.
Keduanya memasang muka kesal. Namun Ahmad memecahkan suasana tersebut.
“Aku tadi kerumah kamu,
mungkin aku sudah salah rumah.”
“Kan aku uda bilang
kalau aku di asrama.”
“Kamu gak bilang kok,
gak ada kamu sms aku.”
“Ada, mungkin gak
terkirim aja.”
Cukup lama pertengkaran itu terjadi,
tidak lupa diselangi dengan suasana hening. Tampak dari kejauhan kedua teman
Selasa berjalan kearah mereka. Ahmad pun bertanya dengan Selasa.
“Mereka teman kamu
ya?.”
“Iya,teman seasrama
aku”. Jawab Selasa.
Mawar dan Melati pun melewati mereka
berdua dengan memperhatikan wajah Ahmad. Tiba-tiba Mawar dan Melati dikejutkan
dengan pertanyaan yang dilontarkan Selasa.
“Mau kemana?”
“Mau kewarung.”, Jawab
Mawar.
Sebenarnya yang ada di pikiran Mawar
dan Melati adalah tidak mengenal Selasa sama sekali, tetapi Selasa tidak
mengetahui hal tersebut.
“Eh,makan yuk!.” Ajak
Ahmad.
“Boleh,dimana?”
“Disini aja, nasi
goring. Dari pada disini gelap. Tapi kamu aja ya yang makan,aku uda kenyang”
“Kamu gimana sih, makan
aja”
Selasa pun langsung melangkahkan
kakinya menuju penjual pecel lele. Ia pun menunggu Ahmad memarkirkan motornya.
“Eh,kamu aja yang
pesan.” Kata Selasa dengan malu.
Ahmad pun memesan satu nasi goreng.
Beberapa menit kemudian, nasi goreng pun datang. Dan ternyata nasi goreng yang
datang ada dua. Ahmad pun terkejut, namun akhirnya Ahmad pun memakan nasi
goreng tersebut. Disela mereka menyantap nasi goreng tersebut, Ahmad
menceritakan pekerjaannya.
“Gimana kerjaan kamu?.”
“Lumayam, enak kok.”
Percakapan mereka pun semakin menarik,
tidak ada lagi perasaan kesal satu sama lain. Nasi goreng pun sudah habis.
Tetapi mereka tetap share cerita masing-masing. Selasa pun memotong pembicaraan
Ahmad.
“Eh, pergi yuk!, gak
enak. Orang lain mau makan juga”
“Biarin aja !”
“Tapi kan uda rame nih,
kita pergi aja!”
“Ya deh, eh kita ke
Alun-alun aja yuk!” Dengan berat hati.
“Yuk..!”
Mereka pun beranjak pergi dari
tempat Pecel Lele. Ahmad bergegas menuju parkiran motor yang tidak terlalu
rame. Dengan biasanya Ia menghidupkan mesin motor. Pergerakan motor pun penuh
hati-hati, karena jalan menuju ke jalan raya tidak terlalu bagus. Dari kejauhan
Selasa sudah menunggu Ahmad dengan motornya di pinggir jalan. Terlihat jelas
raut muka Selasa yang begitu senang. Tidak lama menunggu, Ahmad pun tiba.
Dengan senang hati Selasa naik ke motor Ahmad. Mereka pun berjalan dengan
santainya. Tidak sebatas di tempat Pecel Lele, percakapan mereka pun berlanjut
di atas motor.
Singkat cerita, sudah hampir sampai
ke alun-alun, namun mereka tidak sempat mampir, dikarenakan hari sudah cukup
larut malam. Selasa pun memberi tahu kepada Ahmad untuk pulang. Ahmad pun
mensetujui itu, karena rumah nya cukup jauh. Dan besok juga Ahmad akan
berangkat ke Jakarta.
Pertemuan mereka yang sudah lama
dinanti akhirnya bisa terwujud. Namun pertemuan itu tidak terjadi begitu saja.
Banyak halangan yang dihadapi oleh Selasa. Air mata nya pun kalau dihitung
tidak pernah terhitung berapa banyak jatuh di pipi manis Selasa.
Ada kata-kata “Kebahagiaan yang benar-benar dikatakan bahagia adalah kebahagian yang
didapatkan dari halangan dan rintangan yang diperjuangkan sebelumnya.”
***
Tamat
0 komentar:
Posting Komentar