Sabtu, 28 Juli 2018

Pengalamanku saat Gerhana Bulan, 28 Juli 2018

Aku ada sedikit cerita menarik dari pengalaman aku sendiri soal gerhana bulan yang terjadi pada tanggal 28 Juli 2018. Sebenarnya aku ada sedikit kekeliruan dalam mengartikan waktu terjadinya gerhana bulan. Aku mengira sabtu malam minggu😂dan aku memasang alarm tanggal 28 Juli 2018 pukul 00:15(nah ternyata tanpa sadar aku memasang alarm di waktu yang tepat).

Kebiasaan emang kalau malem mau tidur kalau hp batrenya sedikit aku nonaktifkan, sedangkan kalau batrenya banyak aku nonaktifkan data saluler. Nah berhubung kemaren batrenya sedikit jadi aku nonaktifkan tuh hp. Karena pikiranku gerhana terjadi minggu pagi. Jadi alarm yang aku pasang gak bakal bunyi sampe kapanpun😂

Akhirnya tidur dengan pulas. Nah, sekitar pukul 02:56 aku terbangun dari tidur karena bermimpi sesuatu yang sangat indah. Didalam mimpiku, aku melihat langit malam yang begitu indah dihiasi dengan sesuatu yang berbentuk ikan warna-warni kerlap-kerlip. Sontak aku terbangun, dan langsung terpikirkan "eh kalau besok pagi minggu, berarti tanggal 29 bukannya 28". Yang mana seharusnya kalau hari ini di jam yang sekarang sedang terjadinya gerhana bulan, tetapi belum total.

Aku langsung cepat-cepat keluar rumah untuk melihat secara langsung. Dengan sangat hati-hati aku membuka pintu rumah, takut membangunkan seisi rumah. Tetapi tidak terlihat apa-apa(aku melihat dari teras rumah). Sebenarnya bulan kan kalau jam segitu berada di belakang rumah. Aku mau keluar pagar, tapi takut orang rumah pada bangun. Jadi aku sedikit kecewa😔. Aku sangat ingin melihat secara langsung karena ini adalah gerhana bulan kedua setelah tanggal 31 Januari 2018(Super blood moon), tidak hanya itu dilansir dari liputan6.com gerhana bulan total kali ini terjadi karena bulan berada pada titik Apogee, atau titik terjauh dari Bumi. Gerhana bulan total ini juga bisa disebut sebagai Micromoon karena penampakannya yang kecil, kebalikan dari gerhana bulan total yang terjadi pada Januari lalu yang memiliki sebutan Super Blue Blood Moon di mana ukuran bulan terlihat lebih besar dan cerah. Bahkan, melansir Space.com yang mengutip buku "The Five Millennium Canon of Lunar Eclipses: (-1999to +3000)", kita akan menemui gerhana bulan total dengan durasi selama ini pada 9 Juni 2123 mendatang. Ditambah lagi dilansir dari @infobmkg bahwa gerhana kali ini akan adanya hujan meteor pada saat gerhana total terjadi dan akan diawali dan di ikuti gerhana matahari parsial.

Akhirnya aku putuskan masuk kerumah dan melihat siaran langsung di youtube.

Keadaan masih kecewa belum mau tidur, tiba-tiba sekitar pukul 03:55(sudah masuk gerhana total, tetapi belum berakhir karena gerhana bulan total terlama selama 103 menit. Ctt : info lengkap cek di akun instagram resmi bmkg @infobmkg) ibu bangun(emang kebiasaan cepet bangun, beda dengan aku😁). Pikirku masih ada kesempatan untuk melihat secara langsung. Langsung terpikir ide cemerlang agar bisa membuka pintu rumah dan pagar dengan leluasa. Bergaya seperti baru bangun tidur, aku berjalan ke arah toilet, terus bertanya dengan ibu yang sedang duduk di meja makan sambil ngopi santai,
Aku : "gak lihat gerhana?".
Ibu : "tadi, aku dengar disiarkan di masjid pukul 3."
Aku : pikirku dalam hati, berarti ibu sudah bangun tadi, sadar gak ya aku buka pintu. "oh itu, pengumuman untuk melaksanakan sholat gerhana. Sekarang sedang total".


Langsung aku buka pintu rumah, keluar pagar. Cacaaanngg...bener dibelakang rumah bulan sedang berwarna merah. Aku sangat berayukur bisa melihat secara langsung. Bersama ibu aku menyaksikannya secara langsung. Terima kasih ya Allah.

Senin, 05 Maret 2018

HIANATI (PART 5)

Tilulit…tilulit…nada whatsapp bahwa ada pesan yang masuk. Ternyata dari si kunyuk Upin. “kamu dimana? Aku sudah dirumah Sabarina” . “oh, oke aku segera meluncur” balasku dengan cepat.
Setibanya di rumah Sabarina, sudah ada mobil orange terpakir didepan rumahnya Sabarina. Kemungkinan mobil si kunyuk Upin. Langsung aku buka pintu pagar rumahnya Sabarina, ku parkir motor ku dan langsung ku ketuk pintu rumahnya. Bukan pintu hatinya ya…hehehe. Tok..tok..tok.. “assalamualaikum !” sapaku dengan suara yang lembut.
“waalaikumsalam, masuk Yas” jawab Sabarina sambil membukakan pintu.
“si kunyuk Upin belum datang?” tanyaku heran.
“belum”.
“itu di depan mungkin mobil si kunyuk Upin”.
Ku urungkan niatku untuk masuk kedalam rumahnya Sabarina, ku putar balik badan keluar pagar rumahnya Sabarina. Celingak celinguk ku lihat kearah mobil orange itu. Tlek..pintu mobil depan terbuka, ternyata benar si kunyuk Upin. “Sudah lama ya? Kenapa gak langsung masuk aja” tanyaku kesal. “sudah lama sekali, dari pagi…hehehe” jawab Upin melawak.
Para personil akhirnya sudah datang semua, barang-barang sudah berada didalam mobil. Siap meluncur ke tempat tujuan. “bismillah ya Allah” ucapku didalam hati. “berangkaaat….” Teriak kami semua.
Kegiatan selesai, kami pun kembali kerumah Sabarina untuk istirahat. Kemudian kami berencana untuk makan ceker pedes. “Ulala…sudah lama tidak makan itu” pikirku di dalam hati. Bergegas meluncur ke TKP. Setibanya ke TKP eh ternyata tutup. Kan ngenes…. Tetapi kami tidak abis akal, kami mencari tempat makan lain. Pikiran tertuju ke bakso 5.000 deket lampu merah. “sepertinya tutup” celetuk Sabarina. Dua kali ngenes…hahaha.
“udah kita makan di samping SMP IT aja” usul Yanti.
“ya udah deh kalau gitu
Setibanya disana, tidak menunggu lama langsung memesan menu yang ada. Disela-sela makan, Sabarina menceritakan semua masalah yang sedang ia hadapi. Suara Sabarina sudah mulai berat dan sedikit bergetar. Aku tahu betul bagaimana perasaannya sekarang. Ibu-ibu komplek sudah penasaran sosok si wanita itu, merekapun cek smartphone masing-masing untuk men-stalk wanita itu. Ekpresi mereka pada heran, kesal, marah, campur aduk semuanya. Tidak ada yang bisa kami perbuat, kami hanya bisa menguatkan Sabarina untuk tetap sabar dan semua kejadian ini pasti ada hikmahnya. Sabarina pun mencoba untuk menerima itu semua dengan ikhlas.

HIANATI (PART 4)

       Setiap hari waktu berjalan dengan semestinya. Tapi hubungan ini gitu-gitu aja tanpa ada perubahan yang signifikan. Sudah lama aku menunggu waktu yang tepat untuk ngomongin masa depan berdua dengannya. Tapi apa mau dikata, kesempatan itu belum ada. Hari-hari berlalu dengan kegalauan yang terus memuncak bagaikan gunung yang mau meletus.
Ku buka aplikasi whatsapp, ku cari nama Sabarina di kontak. Ku klik namanya dan ku ketik pesan yang mau aku kirim.
“Sab, Sabtu/Minggu ini aja ya kita kunjungan ke panti…”
“Terserah kamu aja Yas…aku ikut kamu aja”
“Oke, barang sumbangan anak-anak sudah terkumpul belum dirumah kamu?”
“Belum Yas, katanya yang punyanya Ani besok baru nyampe”
“Oh oke kalau gitu”
“Yas, kapan kita mau belanja sembako untuk sumbangan?”
“Ntar malem Sabtu aja”
“Oke”
Aku sama Sabarina memang punya niat mau nyumbangin apa aja kepanti asuhan. Planning sih uda lama banget, tapi baru sekarang mau terealisasi. Banyak kendala yang kami hadapi, mulai dari waktu kunjungan kapan, barang sumbangan apa aja. Niat sekarang udah bulat banget untuk kunjungan. Gak boleh nunda-nunda niat.
Sudah lama aku ingin bertemu dengan Sabarina. Sebenarnya aku tidak mau ikut campur urusan mereka. Cuma aku kasihan dengan Sabarina, dia orangnya baik banget. Dia gak pantes diperlakukan seperti itu. Kok tega-teganya si Badrol memperlakukan Sabarina seburuk itu.
Jum’at malam pun tiba. Aku siap-siap untuk kerumahnya Sabarina. Ku nyalakan motor dan uuuiiiinngg….motorku melaju dengan semestinya. Kayak hubunganku yang hanya berjalan semestinya. Terlihat rumah Sabarina yang tidak jauh dari jalan raya. Perlahan aku kecilkan gas motor dan mengerem sedikit. Uuhhh…jalan menuju rumahnya tidak mulus sama sekali, jalan becek bebatuan, berlobang, dan bergelombang. Ya tidak jauh beda dengan hubungan aku sama dia. Eh kok dari tadi curcol mulu ya…hehehe.
Setibanya dirumah Sabarina ku langsung mengetuk pindu barengan dengan ucapan salam. Tidak lama menunggu, Sabarina langsung membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Hanya duduk sebentar, kami pun siap meluncur ke mini market dekat rumahnya. Diatas motor aku terus memikirkan bagaimana caranya aku memulai pembicaraan serius dengan Sabarina. Eh, bukannya aku mau nembak ya. Aku normal woy…!. Dengan detak jantung yang berdegup kencang. Lebay. Aku memulai pembicaraan dengan Sabarina masalah Lesi. Tidak berhenti di atas motor aja, sesampainya di mini market kami pun melanjutkan pembicaraan. Alhasil belanja kami malam itu tidak focus. Sebenarnya aku yang cerita ke Sabarina, eh malah Sabarinanya yang jadi curcol. Oke, sebagai pendengar yang baik aku pun mendengarkan cerita Sabarina dengan seksama. Sampai Sabarina nangis saking gak kuatnya untuk cerita. Sebagai teman aku hanya bisa menguatkan dengan bilang sabar ke Sabarina.
Belanja udah selesai. Cus pulang kerumah Sabarina. Setibanya dirumah, Sabarina membuka smartphone nya untuk menunjukkan apa yang dibicarakan Lesi. Sabarina cukup cerdik, ketika Lesi nelpon semua pembicaraannya ia rekam. Uuhh…lama ya rekamannya, kayak hubungan aku yang udah lama tapi ngambang. Entah apa yang Lesi bicarakan, aku hanya mendengar bahwa Lesi dan Badrol sudah pacaran selama dua tahun. Waw, hebat!. Lamaan Sabarina 8 tahun. Sabarina sampai terheran-heran. “kemana aja aku selama dua tahun tidak mengetahui ini? Selama ini aku percaya sama Badrol kalau ia sibuk kerja” ungkap Sabarina dengan suara yang bergetar.
Suasana pun berubah ketika dua kunyuk itu datang, Upin dan Ipin. Yang tadinya menyeramkan kayak dikuburan, sekarang berubah seperti ditaman bermain. Tidak ada lagi kesedihan di wajah Sabarina. Ia mulai tertawa dengan tingkah laku kedua kunyuk itu. Mereka memang bisa merubah suasana menjadi lebih ceria.
Pukul sudah menunjukkan 21:00 WIB, eh tiba-tiba listrik mati. Rencana mau pulang cepat berhubung aku anak rumahan cewek pula jadi gagal total. Lama menunggu listrik hidup kembali, kegelapan malam diisi dengan candaan yang tidak lucu tapi bikin ketawa.  Bingung deh kalian yang baca gimana maksudnya..haha. sudah lama tidak makan mi indomie mentah, akhirnya terwujud malam itu. Dan foto-foto siluet dengan model si Upin mencairkan suasana.
Aku mulai resah dan gelisah menunggu listrik hidup kembali. Akhirnya aku putuskan untuk memberi tahu orang rumah kalau aku belum bisa pulang dikarenakan listrik masih padam. Dan tidak lupa aku tanyakan apakah dirumah juga listrik padam, ternyata sama. Sebelumnya aku sudah menanyakan hal yang sama dengan kakak iparku, eh ternyata dianya tidak ada dirumah.
Waktu sudah sangat larut, akhirnya kakak iparku menghubungiku menanyakan apakah aku sudah pulang atau belum.
“kamu sudah pulang belum?” tanyanya dengan keras.
“belum, masih dirumah teman listrik masih padam” jawabku cepat.
“mau dijemput gak?”
“boleh, tapi aku pake motor sendiri. Nanti ikutin aja dari belakang”
Brum…brum…suara motor yang sudah sangat aku kenali. Bergegas aku keluar rumah untuk memberi tahu kalau aku berada dirumah disamping motornya. Cepat-cepat aku hidupkan motor matic ku, dan pamit ke Sabarina untuk pulang. Dua kunyuk itu kayaknya menunggu sebentar lagi setelah aku pulang baru mereka pulang. Keluar dari lorong rumah Sabarina ternyata listrik sudah hidup kembali. Ya sudahlah…pulang dengan tenang.

***

HIANATI (PART 3)

Keesokan harinya seperti biasa, rutinitas kerja. Sebenarnya hari ini jadwal piket aku sih. Agak malas sih datang, tapi dari pada dirumah tidak ada kerjaan. Kerjaan dirumah hanya nonton tv, mainin smartphone ngeliatin TL nya instagram, wa, facebook. Ya namanya aja orang yang gak jelas status hubungannya. Dianya juga gak ngbungin aku. Tukan akunya jadi curcol. Hehehe…
Sengaja aku datang hari ini agak telat. Ternyata teman sejadwal piket bareng aku Andini sudah datang duluan. Andini adalah adik sepupunya Diana atasan aku. Seperti biasa dikantor gak ada kerjaan, belum aja sih. Kalau sudah ada, bengek…bengek pasti. Hahaha.. Si Andini sibuk video call dengan pacarnya, aku hanya baper doang. Hanya saja mereka gak terlalu lama video call nya. Disela kebaperanku merenungi nasip, tiba-tiba datang sosok yang cukup cantik nongol dari pintu masuk. “Din, kemana Kak Diana?” tanyanya dengan suara yang lembut dan anggun. Dengan terkejut “Gak tau aku !” jawab Diana. Cewek itu adalah adiknya atasanku dikantor, mungkin adik kandung. Betapa bodohnya aku pada saat itu karena tidak mengenali bahwa itu adalah cewek yang ada di foto bersama Badrol pacarnya Sabarina. Aku pada saat itu tidak ada pikiran sama sekali tentang Badrol pacarnya Sabarina.

***

HIANATI (PART 2)

Sudah waktunya untuk masuk kerja lagi. Rasanya males minta ampun. Di hari minggu sebelumnya aku keliling kota kayak lagi tour. Soalnya undangan pernikahan ada 3, eh  ditempat yang berbeda secara bersamaan. Salah satunya kakak satu tempat kerja, kak Pertiwi. Sebenarnya belom kenal betul sih, cuma calon suaminya kakak kelas aku SMA dan kuliah. "Uuhhh...hari yang melelahkan" pikirku.
Di acara yang terakhir kakak kelas aku SMA, eh ketemu gebetan waktu dulu. Namanya Zul, ketua osis kece yang baik kesemua orang. Pas ketemu aku kaget sekagetnya, dianya sudah punya anak satu. "Astagfirullah ! Sudah punya anak?" celetukku dalam hati. "Dimana sekarang? Sudah nikah?" tanya kak Zul memecahkan lamunanku. "Hahahaha...masih disini aja kak. Belum kak" jawabku malu. Langsung cepat-cepat aku menjauh pergi supaya tidak dilontarkan pertanyaan yang tidak bisa kujawab.
Hari pun sudah sore dengan gerimis turun, aku langsung langsung pulang kerumah setelah mengantarkan temanku kerumahnya. Rasanya kaki ini mau patah gara-gara gayaan pakai heels. Akhirnya dengan ide yang cemerlang, aku meminjam sandal jepit temanku. Dan sampai saat ini belum ku kembalikan. Hehehe..maaf ya.
Setiba dirumah, aku langsung membersihkan make up diwajahku. Setelah itu aku langsung membaringkan tubuhku dikasur dengan kipas angin yang menyala. Ku ambil handphone di tas, langsung cek sosmed. Tujuan pertama adalah facebook. Ku scrol terus lihat beranda, stop ! Mataku tertuju dengan postingan si Sabarina. Bukan status anak alay ya..hehehe. Sabarina cuma meng-upload foto bersama pacarnya Badrol. Seketika itu aku berfikir, "oh mungkin mereka sudah baikan. Mungkin yang kemaren hanya salah paham".
Seperti biasa, aku anak yang rajin untuk masuk kerja. Ya walaupun bisa aja kalau gak masuk, asalkan saat jadwal harus masuk. Sebenarnya hari ini bukan jadwalku piket, tapi ya namanya anak baru harus banyak belajar dari senior. Setibanya dikantor, aku membersihkan sedikit ruangan yang berdebu. Eh tiba-tiba datang kak Tiwi, "sudah lama dek datengnya?". "Baru aja kak" jawabku sambil menyapu.
Pekerjaan bersih-bersih beres, waktunya istirahat. Pekerjaan belum ada, yang paling enak adalah ngobrol. Disela-sela obrolan kami soal pekerjaan, handphone kak Tiwi bunyi ada yang nelpon. Entah siapa yang nelpon aku gak peduli. Aku asyik scrol ig aku liat kiriman orang-orang. "Dek, kenal sama Sabarina gak?" tanya kak Tiwi cepat. Sontak pertanyaan itu membuatku terkejut. Dengan santai aku jawab "kenal dong kak, dia temen satu kampus aku". "Ada nomer handphone nya gak dek?". "Ada kak, 0822xxxx” jawabku perlahan sambil memperhatikan layar smartphone.” Siapa kak? Cewek apa cowok? Ada perlu apa?" tanyaku seperti introgasi di kantor polisi. Aku hanya gak mau ngasih ke sembarang orang. Kak Tiwi menanyakan pertanyaan tersebut ke penelpon. Katanya cewek, dia Lesi adiknya atasan kita Diana dan dia minta nomer handphone masalah percintaan. Otakku fast respon, langsung aku buka aplikasi wa dan menuju ke kontak. Dengan cepat aku menunjukkan foto profil Badrol ke kak Tiwi. "Bener gak kak ini orangnya" tanyaku penasaran. Kebetulan aku simpan nomernya waktu Sabarina cerita ke aku. Waktu itu aku hanya ingin memastikan apakah Sabarina di blokir atau enggak. Dengan teliti kak Tiwi memperhatikan foto tersebut, dan jawabannya iya. Seketika itu aku syok, diam dan gak bisa ngomong apa-apa lagi. Kak Tiwi pun penasaran apa yang terjadi. Ia mencoba melontarkan pertanyaan kepadaku, "kenapa dek?". Dengan wajah yang gak enak aku menceritakan semuanya ke kak Tiwi. Kak Tiwi pun terkejut mendengar ceritaku yang panjang lebar. Tetapi aku yang lebih terkejut lagi mendengar pernyataan kak Tiwi bahwa Lesi sudah menjanda. Sebenarnya kak Tiwi belum tau pasti kebenarannya atau tidak.
Tutup cerita, kami berdua pun ngomongin soal pekerjaan. Semua yang ingin tau soal pekerjaan baru ini aku tanyakan semua. Kak Tiwi menjawab sebisanya apa yang aku tanyakan.

***

HIANATI (PART 1)


Kenalin nama aku Tyas alumni Universitas 45. Kami para alumni memiliki grup di aplikasi apa(whatsapp). Di grup tersebut pada ngomongin hal yang gak penting. Yang dibahas selalu saja soal kumpul. Terkadang ngomongin hal yang penting juga sih. Ambil aja sebuah contoh, misalnya curcol. Yee..inikan sama gak penting juga. Nah ngomongin soal curcol, ada temen aku namanya Sabarina. Ia orang yang sangat baik,pintar,cantik,keibuan tapi agak bengis..hehehe.
Aku tak sengaja berkata benar. Sabarina bales chat di grup bilang "aku kesel..!". Sebagai manusia yang rasa keingintahuan begitu besar, akupun membalas "kesel kenapa sab?". Sekian detik menunggu "Sabarina sedang mengetik.... Akhirnya notif menunjukkan "japri aja yas". "Oke!" jawabku.
Berlanjut ke chat secara pribadi dengan si Sabarina. Aku begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Sabarina. Tidak lama menunggu, Sabarina mengirimkan video pendek yang berisi bahwa foto profil pacarnya Badrol bersama cewek lain. Setelah menonton video tersebut, aku tidak heran lagi. Aku hanya bilang ke Sabarina "Hebat sekali ya, melakukan kesalahan yang sama". Sabarina pun tidak menyalahkan apa yang sudah aku katakan. Dengan santai ia bilang "sepertinya aku memang bodoh". Mendengar jawaban Sabarina seperti itu, aku mencoba untuk menenangkannya. “mungkin itu hanya perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab. Orang yang ngebajak akun Badrol” kata ku pada Sabarina. Sabarina pun bingung, nomer tersebut adalah nomer Badrol yang lama tapi sekarang tidak aktif lagi. Aku pun gak mau pusing mikirin permasalahan mereka. Yang bisa aku lakukan ya Cuma memberikan kata-kata penenang. Obat kali ya…hehehe.

***

Jumat, 05 Juni 2015

Belum dewasa,masih labil

Uda beberapa lama gak nulis lagi nih. Sebenarnya sih banyak mau gue ceritain dan share, kira-kira uda tiga cerita tu yang mau di posting. Tapi kendala nya adalah cerita-cerita itu belum pada kelar, putus di tengah jalan ( eh, pinggir jalan deng, kalo di tengah kan ketabrak ntar wkwkwk).

Sekarang gue gak postingin cerita lucu (itu menurut gue sih lucu, gak tau yang baca) ato cerita sedih dramatis. Kali ini gue cuma mau curhat, nguluarin unek-unek aja. Untuk saat ini gue punya masalah yang begitu rumit. Gue gak tau bisa jalan ceritanya bisa jadi gini. Gue uda berusaha banget nyelesain, eh malah tambah besar.

Umur gue sekarang uda 20 tahun, ya bisa dibilang usia dewasa. Tapi gue gak kelihatan sekecil apapun sikap dewasanya. Gue masih labil, malah gue dikalahin usia dibawah gue. Aduh ntah ya, susah jadi dewasa rupanya. Mungkin gak cuma gue yang usia dewasa tapi sikap anak kecil, bisa jadi umurnya lebih tua dari gue, bener gak ?. Gak cuma itu kok, gue juga suka gak mau ngalah sama orang. Ya bisa dibilang sifat yang sangat buruk. Tapi balik lagi ya itu gue kok. InsyAllah gue bakal berubah jadi lebih baik lagi (bukan berubah jadi Wonder Women ato Saras hahaha).

Gue pernah baca tulisan "Lebih baik terlihat seperti anak kecil, dari pada sok dewasa" , gue setuju banget nih ama tulisan itu. Setiap orang itu punya fase perubahan, ya bisa lama bisa juga cepet. Tergantung dengan individu masing-masing. Gue uda sering usaha untuk menjadi dewasa, tapi kok sulit.  Mungkin kalian gitu juga.

Gue suka ngerasa, kalo gue bisa berubah kalo uda nemuin seseorang yang tepat buat gue. Gue juga bingung, kenapa sifat gue gini, kek anak kecil, masih labil. Tapi ya inilah gue apa adanya. Kita gak perlu kok sok dewasa. Bersikap apa adanya aja. Dari pada kesiksa jadi orang lain. Ya gak? ya gak?

Kayaknya uda cukup banyak kalimat yang uda gue tulis untuk topik "Belum dewasa,masih labil". Mungkin udahan dulu kali ya, jari gue uda pada keriting (besok mau direbonding dulu biar lurus wkwkw). Ntar kalo uda lurus, nulis lagi deh :)

Rabu, 08 April 2015

Faktor yang mempengaruhi sulit Move On

Pernah gak kalian susah Move on dari seseorang? , kalo gue sih sampai sekarang belum bisa move on dari mantan gue sewaktu SMA dulu. Banyak faktor sih yang membuat seseorang susah move on.

Menurut gue sih faktor-faktor yang membuat kita susah move on adalah :

1. Komunikasi

Teknologi jaman sekarang semakin lama semakin canggih. Kalau jaman ibu gue dulu, pake surat. Wah ! minta ampun deh kalau gue ada di jaman itu. Suratnya dikirim hari Senin, eh dateng nya beberapa minggu kemudian. Bakalan berlumut gak tuh nungguin nya (Ih gak bange tauk !).

Kalau sekarang uda pada pake smartphone, internet dimana-mana, jadi kecil kemungkinan gak komuniasi. Semua sudah serba cepat. Ngasih tau gebetan, pacar, temen, sahabat bahkan mantan lebih mudah dan cepat. Eiitss..!! tunggu dulu, faktor ini cuma berlaku bagi seseorang yang gak bisa lepas komunikasi dengan mantan pacar/mantan gebetan. Ya  dengan seringnya komunikasi bakalan susah move on. Dengan gak komunikasi bakalan membuat perasaan berangsung berkurang.

Dari komunikasi inilah yang bikin tetep bertahan :
  • SMSan terus
  • Telponan sering

2. Sosial Media

Sosial media sekarang sudah sangat banyak dan keren-keren. Contoh : Facebook, Twitter, Instagram, Line, Be Talk, dll. Sewaktu pacaran di facebook buat status hubungan menikah,pacaran ataupun tunangan (lebay banget gak tuh ?). Eh ketika uda putus jadi lajang kembali. Sebagian orang masih punya perasaan sayang dengan sang mantan, sampai-sampai pertemanan gak dihapus, malah dibuat favorit biar apa yang Ia tulis bakalan muncul di pemberitahuan.

Yang bikin gak bisa pidah kelain hati adalah :
  • Dianya selalu ngeLike status, foto
  • Dianya selalu coment yang manis-manis
  • Yang terpenting, dianya masih lajang juga
 3. Jarak

Faktor yang terakhir adalah Jarak. Menurut gue sih faktor jarak inilah yang sangat berperan seseorang susah move on . Hal ini disebabkan oleh, kalau kita deket dengan gebetan/mantan kita bakalan sulit untuk ngelupain dia. Apalagi sering ketemu, rasanya gak mau pergi-pergi tuh dari pikiran. Ditambah lagi dianya masih bersikap baik dan manis seperti pacaran dulu (mampus deh gak move on-move on nih bakal :( ).

Saran gue sih untuk yang ingin cepet move on, caranya simpel banget kok. Gak sesulit yang kita-kita pikirin. Gak sesulit mindahin gunung ataupun ngeringin laut. Caranya adalah :
  1. Niat
  2. Doa
  3. Usaha ( ya jauhin ke-tiga faktor diatas)
SIMPLE kan !!
Selamat mencoba :)

Senin, 30 Maret 2015

Teman Masa Kecil

Umur gue waktu dulu kira-kira 4-5 tahun. Gue dulu bisa dibilang anak yang lucu (itu sih menurut gue sendiri). Badan gue belum segede seperti sekarang.

Gue punya temen semasa kecil yang sering main bersama. Sebut saja nama nya Ceking (nama samaran). Menurut gue Ia adalah anak yang periang, lucu, baik, dan blabla. Sebenarnya banyak temen gue sewaktu kecil. Cuma gak tau kenapa sekarang gue jadi keinget dia lagi.

Gue dulu tinggal di dusun yang belum maju. Orang tua gue bekerja sebagai petani. Kakak gue sekolah di kota. Sedangkan gue ikut orang tua gue di dusun. Ya karena gue belum cukup umur untuk sekolah. Bermula dari gue ikut orang tua inilah gue bisa kenal dengan Ceking. Perkenalan kami dulu pun biasa aja (bisa pikirin sendiri perkenalan dua anak kecil yang belum tau apa-apa).

Setiap pagi dia nyamperin gue dirumah untuk maen bareng. Gue pun seneng dan langsung berangkat. Yang gue gak habis pikir sekarang, kami maen dulu belum mandi. Tapi kami gak pernah komplen satu sama lain tentang kebusukan badan kami masing-masing.

Permainan yang kami mainkan adalah permainan yang biasanya anak-anak seusia kami lakukan, seperti : main masak-masak, main berjualan, main rumah-rumahan,dll. Ada permainan yang gak pernah gue lupain sampai sekarang. Gue bingung mau nyebutin nama permainan itu apa. Entar kalian semua gak ngerti yang gue omongin. Secara kita beda daerah. Ok! , nama permainan itu adalah Nikah-nikahan.

Perlangsungan pernikahan boongan itu di sebuah kebun milik Ceking. Persiapan pernikahan pun berlangsung sederhana. Sebelum pelaksanaan, kami berdua sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Temen-temen gue yang lain berperan sebagai crew pernikahan.

Sebelumnya kami ber-4 sudah bermusyawarah bersama. Diambillah sebuah keputusan besar yang begitu mengejutkan gue sama Ceking. Ternyata yang akan menjadi penganten nya adalah kami berdua. Tanpa berpikir panjang lagi, kami berdua mengiyakan keputusan tersebut.

Gue pun bergegas pulang kerumah untuk mengganti pakaian. Dulu sewaktu kecil gue gak pernah ada gaun pesta yang bagus kayak anak-anak perempuan pada umunya. Bisa dibilang gue dulu cewe tomboi. Gue mulai putus asa gak nemuin satupun baju bagus. Akhirnya pikiran gue tertuju dengan baju daster ibu gue. Tanpa pikir panjang lagi, gue langsung ganti baju gue. Jreeeng..!, bajunya panjang banget. Gue sampai kualahan untuk berjalan. Tapi gue kan anak dengan berjuta ide di kepala. Ya gue berjala sampai mengangkat bajunya lah : ) . Gue pun langsung berbegas kembali ke kebun milik Ceking. Setibanya gue disana, eh ternyata Ia sudang menunggu gue dengan dandanan nya yang super duper biasa.

Temen-temen gue yang lain pada sibuk nyiapin bunga-bunga, mahkota, cincin (terbuat dari rumput).

Kedua mempelai sudah berada di tempat. Pernikahan akan segera berlangsung. Ya kira-kira begitulah acara pernikahan yang sebenarnya. Seinget gue, dulu Ceking gak ada bilang ijab kabul (ya iyalah, namanya aja anak-anak. Gak tau apa-apalah dunia dewasa :D ). Tau-tau uda pake mahkota dari rumput, terus duduk bersampingan deh.

Banyak sekali kegiatan gue semasa kecil dulu bersama Ceking. Gue uda gak inget lagi. Tapi gue masih inget dengan muka Ceking. Kalau di hitung-hitung uda 15 tahun gue gak ketemu Ceking. Rasanya gue pengen ketemu dia lagi sekarang. Denger dari adeknya, dia sekarang sekolah deket kampus gue. Gue kegirangan banget tu denger nya. Tapi gue gak ada kontak adeknya atau diaya sendiri. Gue berharap bisa ketemu dia lagi.

Jumat, 27 Maret 2015

Cinta Sendiri

Gue bakalan berbagi lagi tentang pengalaman hidup gue. Kali ini gue mau cerita tentang love gue. Dulu gue sewaktu SMK pernah mengalami jatuh cinta yang cukup hebat. Kira-kira kelas 2 semester 1, gue jatuh cinta dengan salah satu cowo yang sekelas dengan gue. Cowo itu sebut saja namanya Otong(nama samaran). Gue merasa cowo tersebut bisa dibilang cowo perpact yang pernah gue liat. Gue bisa bilang dia gitu gak sembarangan atau sebuah kebohongan, tetapi gue punya beberapa bukti. Gue ngerasa waktu sekolah itu begitu penting, gak mau atu hari pun terlewatkan. Terus saat ada ujian, nilai gue gak mau dibawah nilai dia. Bisa diibaratkan dia itu penyemangat belajar gur.

Hari-hari berlalu gue lewati begitu cepat. Posisi duduk gue dengan dia gak terlalu berjauhan. Gue duduk di barisan paling depan, sedangkan dia duduk di bangku dua baris dari meja gue. Sewaktu belajar jika ada kesempatan gue selalu menyempatkan pandangan gue menujuh kearah mejanya. Gue pandang mata,mukanya, dll. Pandangan yang gue lakukan berlangsung cukup lama. eh tiba-tiba dia ngeliatin gue juga. Gue langsung grogi tu, gue mulai senyum-senyum gak jelas deh. Yang bikin gue jadi tambah seneng banget, dia nya juga senyum-senyum gak jelas gitu.

Setiap hari begitulah yang selalu kami lakukan, senyum-senyum gak jelas. Temen gue sekelas uda tausemua kalau gue seneng sama dia. Mereka pun tidak menghiraukan apa yang kami lakukan.

Satu semester telah berlalu cukup pendek. Gue mulai merasa kalau dia punya perasaan yang sama dengan apa yang gue rasain. Gue bisa berpikiran seperti itu karena sikap yang ia berikan ke gue. Mungkin kalian juga pernah ngerasain yang gue rasain dulu. Gue selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk dia. Yang gue lakuin ya cuma gak mau kalau nilai gue turun.

Gue selalu merasa hari-hari gue sangat bermakna dan begitu penting. Dulu gue selalu membantu dia dalam segala hal. Pokok nya yang ada dipikiran gue dulu adalah gue harus selalu ada untuk dia. Gak penting kalau yang gue lakuin ngerugiin diri sendiri. Gue selalu ada buat dia. Cuma dengan dia gue berlaku baik, gak pelit dalam hal apapun. Mungkin ini yang dibilang cinta. Kalau lo pernah sayang sama seseorang, mungkin yang lo lakuin bakalan sama dengan apa yang gue lakuin waktu dulu.

Gue pernah denger dulu, kalau cowo itu bakalan ngemanfaatin perasaan cewe yang suka dengan nya. Ya bisa dikatakan ngemanfaatin kebaikan si cewe. Kalau dipikir sekarang gue dulu begitu bodoh mau aja ngebantuin segala hal untuk cowo yang gak pernah ada buat gue.

Gue dulu terlalu terhanyut dengan yang namanya GR. Gue selalu berpikir kalau dia punya perasaan yang sama juga dengan gue. Ditambah lagi temen-temen gue bilang hal yang sama dengan perasaan gue. Tetapi, ternyata pikiran gue salah. Tingkah yang dia lakukan adalah hal yang wajar.

Setelah gue tau semuanya, gue merasa syok berat. Semangat gue pun mulai berkurang. Tetapi gue menyikapi semua nya dengan positif. Gue rasa gak semua orang bisa saling mencintai, pasti ada yang cinta sendiri(cinta bertepuk sebelah tangan). Gue berpikir positif lagi, berkat gue punya perasaan ke gue, gue dapet juara kelas terus sampai tamat SMK.

Sekarang kalau kalian punya pengalaman yang sama dengan gue, yakin lah pasti ada manfaatnya. Allah berlaku adil kok. Yang terpenting jangan terpuruk oleh hal yang gak terlalu penting. Kejar cita-cita, buat bangga orang tua.

Kamis, 26 Maret 2015

Not Responding

Sakit, nyesek, kesal hari ini gue rasain. Hal ini tejadi gara-gara labtop gue yang ngelek, ya sering disebut not responding. Kalau kalian ngerasain, tugas kuliah yang uda lo buat mati-matian terus tiba-tiba labtop lo not responding. Dan semua file yang telah lo buat kehapus. Rasanya tu pengen nangis sekencang-kencangnya. Kalau bisa sih laptobnya dilempar ke dinding. Eh, tapi kan mahal. Pikir-pikir lagi deh.

Gak cuma itu kok, kalau lo ngedapetin nilai yang gak sesuai dengan apa yang telah lo kerjain. Rasanya juga bakalan sama dengan yang gue rasain sekarang. Emang bener sih ada yang bilang kalau nilai itu gak penting, yang penting itu skill . Tapi saat itu terjadi, pasti bakalan kesal juga sih. Kita gak bakalan mikirin itu, yang dipikirin gue gak mau nilai gue sendiri yang kecil. Yaaa, bisa dikatakan hidup itu kadang gak adil. Tapi sebenarnya adil kok, cuma kitanya aja yang selalu merasa kurang.

Gue berbagi lagi nih, tapi seberapa sering kamu mencoba untuk menerima semua keadaan,maka akan semakin sulit untuk menerimanya. Ya karena sifat manusia yang tidak pernah merasa puas. Ada yang bilang kalo hidup itu berputar, kalau gue sekarang lagi dibawah mereka. Mungkin besok-besok diatas mereka.

Dari apa yang telah terjadi bakalan ada hikmah nya kok. Mungkin sekarang gue ngerasa gak adil dengan apa yang telah terjadi, tetapi gue yakin kok kalau sekarang gue gagal sekali, nanti bakalan berhasil lebih dari sekali. Kalau menurut gue, kalau kita mensugesti diri sendiri dengan hal baik, maka diri kita dengan sendirinya akan berangsur berubah lebih baik. Sebalinya jika kita mensugesti diri sendiri dengan hal buru, contoh :"ah,gak papa nilai kecil,temen-temen yang lain juga gitu", nah pikiran kita bakalan terpuruk terus, gak bakalan ada pikiran untuk maju dan bangkit.


Sewaktu lo kuliah mungkin pernah ngerasain kayak gue. Nah, kekesalan gue hari ini, gue tuangin ke tulisan ini. Dan sekarang perasaan gue uda mendingan. Nulis ini gue sambil nangis. Sekedar tips dari gue, kalian yang baca tulisan gue ini bisa dijadiin reperensi. Dari pada lo marah-marah gak jelas, apalagi sama dosennya. Mending nulis aja, kalau menurut gue sih nulis itu adalah salah satu cara nuangin kekesalan,amarah tanpa merusak keadaan sekeliling. Contohnya gak ngabisin suara tuh teriak-teriak, apalagi lempar barang.

Yang ngerasa gak bisa nulis gak usah takut, saat lo kesal,marah,ataupun nyesek pasti bakalan muncul dengan sendirinya ide cerita dalam kalimat yang lo tulis. Gue ngerasain kok sekarang, gak sadar kalau paragraf yang gue tulis uda banyak. Siapa bilang nulis itu harus buat cerita romantis, ataupun sedih. Berbagi apa yang lo rasain itu juga nulis kok. :)

Nulis part 1

Kali ini gue gak bakalan ngepost cerita yang gue tulis. Sekarang gue lagi males nulis, ya dikarenakan belum ada yang melintas di pikiran gue. Kalau hanya nulis cerita cinta, sedih, dan blabla, itu mah uda biasa dan banyak penulis terkenal terbaik  yang tulisannya dijadikan sebuah buku. Nah, gue ini hanya seorang mahasiswa bukan jurusan sastra. Nulis cerita aja masih amtir, kata-kata yang digunakan juga masih yang sangat kaku.

Menurut gue sih nulis itu harus berada didalam mood yang baik, kenapa dikatakan mood baik? ya karena disaat nulis, ceritanya bisa dikatakan kurang menarik. Jika kita nulis saat mood baik, pasti banyak sekali ide-ide yang muncul denga sendirinya di pikiran.

Dulu waktu gue mau nulis cerita, gue buka Microsoft word , terus gue tulis judul cerita yang ingin gue tulis. Eh, tiba-tiba keinginan nulis gue ilang, mood gue pun langsung buyar. duaaaaarrrr !. Tapi, gue mau lanjut aja tuh nulisnya, dan ternyata baru beberapa paragraf, ceritanya jadi garing dan gak asik.

Nulis yang paling mudah adalah dengan menulis cerita pengalaman sendiri ataupun kejadian yang pernah kita lihat sebelumnya. Kenapa begitu?, kalau kita mau nulis cerita pengalaman sendiri, maka akan ada kemudahan dalam menentukan jalan ceritanya, karena kita sudah pernah mengalaminya. Yang sulit adalah merangkai kata-kata yang menarik dan tidak membuat bosan pembaca. Mungkin semua tulisan yang pernah saya post kata-kata nya membosankan, ya itu karena gue baru belajar tentang nulis.


Jumat, 20 Maret 2015

Kisah Cinta Joko



Pada suatu hari hiduplah keluarga miskin yang hidupnya begitu menderita. Keluarga itu memiliki satu orang anak yang bernama Joko. Joko adalah lelaki yang mempunyai banyak kelebihan, hanya saja tidak ada yang bisa melihat kelebihan itu. Tetapi dibalik kelebihan yang banyak itu, Joko memiliki perawakan yang sangat menyedihkan. Sehingga tidak ada satu pun yang menyukainya.

Hidup Joko berjalan dengan sangat tragis, bagaimana tidak keluarganya sudah miskin, ditambah dengan cacian teman-teman Joko mengenai muka nya. hari demi hari menjalani hidupnya. Setiap hari Joko biasa berangkat ke sekolah dengan tenang. Tanpa rasa takut dengan bulian teman-temannya.

 Tetapi Joko tidak pernah ada niat untuk membenci teman-temannya itu. Hingga suatu hari saat berlajan menuju sekolah ada temannya ingin melemparnya dengan balon yang sudah berisi air. Joko pun tidak tahu yang akan dilakukan temannya. Diam-diam temannya pun melemparkan balon tersebut, dan wiissshhhh.... ternyata tali sepatu Joko terlepas, sontak Joko langsung mengikatnya. Akhirnya balon tersebut tidak mengenainya dan langsung melayang ke arah api yang cukup besar. Ternyata balon tersebut sangat berguna. Itulah kelebihan Joko yang tidak pernah ada yang menyadarinya.

Di sekolah belajar dengan tenang, Joko adalah murid yang tidak pintar dan tidak bodoh. Jam istirahat pun telah tiba. Joko sudah terlihat di meja kantin sambil menyantap mie yang sudah Ia beli. Iya,mie adalah menu paling murah di kantin tersebut. Lamunan Joko pun tidak ketinggalan sambil menyantap mie tersebut.

Mie tersebut pun lama sekali habis, bukan karena Ia makan lambat karena sambil melamun. Tetapi karena Ia begitu sayang dengan mie tersebut takut habis. Tiba-tiba lamunan Joko pun buyar karena ada wanita terjatuh sambil membawa bakso yang sudah Ia beli. Sontak saja, Joko terkejut dan langsung menolong wanita tersebut. Ya karena jatuhnya di depan meja dimana Joko sedang duduk.

Joko sangat terkejut ketika melihat wanita yang Ia tolong itu. Wanita itu adalah Siti yang selama ini Ia kagumi. Siti adalah kembang sekolah, yang mana banyak sekali lelaki yang menyukainya. Siti begitu cantik, baik, pintar, dan banyak lagi kelebihannya. Joko pun langsung membantu Siti dan memberinya sapu tangan.

Akhirnya Siti langsung pergi menjauh dari Joko. Joko pun langsung meneruskan makan mie nya sambil senyum-senyum. Sudah hampir satu jam mie yang Ia beli belum habis-habis. Setelah melamun, Joko pun langsung teringat kalu jam pelajaran sudah dimulai satu jam yang lewat. Joko pun langsung melahap semua mie tersebut tanpa menggunakan sendok lagi. Ia langsung menenggak kan mangkok kemulutnya. Joko pun langsung berlari ke kelasnya.

Setibanya Joko di kelas, ternyata guru nya tidak masuk karena sedang rapat. Joko pun bisa mengelah napas legah. Joko kembali keluar kelas. Ini adalah kelebihan lain Joko yang Ia miliki. Lagi-lagi tidak ada yang menyadari hal tersebut.

Ternyata Joko memuntahkan mie yang Ia makan tadi karena berlari kencang tadi. Joko pun kelihatannya begitu sedih melihat mie yang keluar lagi. Ia menangis dengan sekencang-kencangnya. Teman-temannya pun langsung berlari ke arahnya. Banyak sekali yang meminta maaf dengan nya. teman-teman Joko mengira Joko mengalami hal buruk. Ada yang bilang kalau tidak akan membulinya lagi. Akhirnya Joko berbicara, ternyata Ia sedih karena mie yang Ia makan dimuntahkan nya. Sontak saja teman-temannya langsung bubar. Dan ada yang menarik kembali ucapannya untuk tidak membuli Joko lagi.

Keesokan harinya Joko selalu bertemu dengan Siti. Sepertinya Siti ingin menyampaikan sesuatu kepada Joko. Tetapi selalu gagal. Siti selalu tersenyum malu melihat Joko. Joko pun selalu membalas senyum manis tersebut dengan senyum yang amazing. Setiap hari bertemu dengan Siti, Siti selalu melakukan hal yang sama.

Hingga suatu saat, Joko mengajak Siti bertemu. Siti pun menyetujui keinginan Siti tersebut. Joko pun mengatakan untuk bertemu dibelakang mushola sekolah. Karena joko berpikir disana adalah tempat yang pas karena tidak ada setannya jika berdua. Nah, ini kelebihan Joko berikutnya. Dan ketiga kalinya tidak ada yang tahu tentang hal tersebut.

Jam sekolah pun telah usai. Inilah waktu yang sangat Joko tunggu. Joko pun langsung menuju mushola sekolah. Ternyata Siti sudah menunggu disana. Joko pun langsung berjalan mendekati Siti dengan penuh ketegangan.

Joko pun memulai kalimat ungkapannya.

“Sebenarnya aku tau yang kamu rasakan kepada ku, kamu selalu tersenyum malu setiap melihat ku. Dan selalu ingin mengatakan sesuatu tetapi selalu gagal.  Jadi bagaimana tentang hubungan kita selanjutnya.

Siti pun sangat shok mendengar kata-kata itu. Sontak Siti langsung menjawab dengan lantangnya.

“Iya aku selalu ingin mengatakan terimah kasih karena sudah membantuku di kantin kemarin. Dan aku tersenyum karena aku melihat celanamu panjang sebelah.

Joko pun lesu mendengar jawaban itu. Dan Ia langsung berlari sekencang-kencang nya meninggalkan Siti dengan air mata bercucuran.

Hari berikutnya setelah kejadian itu, Joko tidak pernah lagi terlihat disekolah. Ia sudah memutuskan untuk pindah sejauh-jauhnya. Satu tahun berlalu, Joko pun kembali ke desanya. Ia pun kembali lagi ke sekolahnya dulu. Teman-temannya menganga semua ketika Joko lewat. Ada yang sampai tersedak lalat karena sudah terlalu lama menganga.

Teman-temannya begitu kaget melihat perubahan Joko yang sangat drastis. Sekarang Joko sudah menjadi idola di sekolahnya. Siti pun terpanah dengan wajah tampan Joko. Tapi sayang, Joko sudah mempunyai pacar yang jauh lebih cantik dari Siti.

TAMAT

Senin, 09 Maret 2015

Tangisan Berujung Senyuman



          Pukul menunjukkan jam 15.50, jam kuliah pun telah berakhir. Mahasiswa penuh suka cita menyambut jam  pulang yang sudah ditunggu sejak lama. Cuaca pun cukup terik menyengat seluruh tubuh. Tetapi tidak ada yang merasa terganggu dengan cuaca tersebut. Tidak sedikit pula mahasiswi yang mengeluh dengan cuaca tersebut.
           Terlihat seorang mahasiswi sebutlah nama nya Selasa, Ia terlihat begitu gembiranya sepulang kuliah. Ia tidak menghiraukan cuaca yang cukup terik. Sangat terlihat jelas diwajahnya bahwa ada sesuatu yang sudah tersimpan begitu lama, bisa jadi yang Ia rasakan adalah hal yang sangat mengembirakan. Ia menjalin hubungan yang baik dengan mantan nya yang bernama Ahmad. Hubungan baik itu sudah terjalin sejak lama, beberapa tahun yang lalu.
          Dulu hubungan mereka lumayan baik sebelum akhirnya kandas di tengah jalan dikarenakan suatu hal yang tidak dapat dijelaskan kenapa. Oleh karena itu hubungan baik itu tetap terjalin hingga sekarang. Tidak ada kata pemutusan jalinan silahturahmi diantara mereka. Setiap ada yang tidak memberikan kabar apapun, pasti salah satu mereka akan memulai menanyakan kabar.
           Sekarang mereka berhubungan jarak jauh, Selasa memutuskan untuk kuliah di salah satu universitas di dekat rumahnya. Sedangkan Ahmad sebernarnya memiliki keinginan yang sama dengan Selasa, tetapi takdir berkata lain. Ahmad tidak lulus tes masuk Universitas tersebut. Dan sekarang Ia pun memilih jalan lain yang mungkin akan lebih baik untuk masa depannya. Ia tidak ingin terpuruk terlalu lama karena kegagalan kecil. Sekarang Ia merantau ke salah satu kota besar yang cukup terkenal. Ia bekerja disalah satu mall terkenal di kota tersebut, Ia bekerja sebagai karyawan di salah satu outlet.
***
            Setiap hari Selasa berharap agar bisa bertemu kembali dengan Ahmad. Ia merasa sangat merindukan Ahmad. Namun akhirnya harapan dan penantian itu berakhir. Sang pangeran Ahmad akhirnya memberitahukan bahwa ia akan pulang ke kampung halamanya. Tetapi hanya dua hari, begitu singkatnya pikir Selasa.
“Hari Senin aku pulang, maaf yang kemarin aku pulangnya hanya satu hari”
          Sebelumnya mereka sempat akan bertemu. Selasa begitu gembira mendengar kabar tersebut, namun akhirnya pertemuan itu gagal. Ahmad tidak memberikan informasi apapun. Selasa pun begitu kecewa dengan hal tersebut. Tetapi Selasa tetap yakin bahwa Tuhan mempunyai maksud yang lebih baik.
          Dengan adanya kejadian tersebut, Selasa tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya. Ia sangat berharap Ahmad bisa menepati janjinya. Selasa menunggu dengan ikhlasnya kedatangan Ahmad yang sudah lama dinanti. Selasa tidak pernah berhenti berharap.
       Akhirnya hari itu pun tiba, namun Ahmad tidak memberikan kabar kedatangannya. Selasa merasa sangat penasaran. Karena Ia tidak ingin kejadian yang kemarin terjadi kembali. Selasa pun mengirimkan pesan kepada Ahmad.
Apakah kamu sudah datang ?.” Kata Selasa didalam pesan singkatnya.
“Iya aku sudah datang tadi pagi. Besok ya kita ketemu.” Balas Ahmad.
            Selasa begitu senang dengan balasan Ahmad tersebut. Rasanya Ia ingin waktu hari itu cepat berlalu.
         Hari esok pun telah tiba, Selasa dengan senangnya berangkat kuliah. Tidak ada rasa sedih, galau, gelisa yang terpancar di mukanya. Waktupun berlalu begitu cepat, hingga akhirnya tiba waktu pulang. Setibanya di asrama, Selasa memeriksa HP yang ditinggalkannya di asrama. Begitu terkejutnya Selasa melihat pesan yang dikirim oleh Ahmad.
“Malam nanti aku gak bisa, jam 7 aku berangkat ke Jakarta.”
          Sambil terdiam, tidak terasa air mata Selasa berlinang. Tiba-tiba datang temannya menanyakan kenapa Ia menangis.
“Kamu kenapa ?.” , tanya Novi dengan penuh rasa simpati.
“Ketemu nya gak jadi, sebelumnya aku sudah ngerasa kalau bakalan kayak kejadian yang kemarin.” , dengan suara yang terisak.
“Sudah, mungkin dia ingin memberikan kejutan.” Jawab Novi untuk menenangkan.
“Enggak mungkin Nov, emang dari dulu dia suka plin plan. Uda ngomongnya kayak gak bakalan ngelanggar, eh gak taunya gak jadi.” Jawab Selasa menjelaskan.
“Sudah, kamu yang sabar ya.”
            Selasa pun menangis dengan sekencang-kencangnya. Ia tidak bisa menahan sesak yang ada di dalam hatinya. Rasanya ingin meluapkan semua amarah yang sudah membara. Ia pun mengecek kembali pesan yang masuk, ternyata Ahmad mengirimkan dua pesan. Selasa membaca pesan kedua yang masuk. Ternyata Ia belum membaca pesan yang pertama.
“Nanti malam ya, jam 7!”
            Tanpa disengaja sebenarnya Selasa melakukan hal yang benar, Ia membaca pesan yang membuatnya sedih terebih dahulu. Selasa pun langsung membalas pesan Ahmad.
“Aku sudah pulang kuliah.” Kata Selasa diiringi dengan rasa kesal.
“Nanti sore kita ketemu!.”
“Owh, ya udah.”
            Akhirnya kesedihan Selasa mulai pudar, Senyum indah nya kembali terpancar dari raut mukanya. Selasa pun menunggu untuk kesekian kalinya perkataan Ahmad. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Selasa masih dihantui oleh rasa gelisah yang tidak menentu. Namun kesedihan yang mulai memudar kembali terpancar dikarenakan pesan yang dikirim oleh Ahmad.
“Maaf,aku gak jadi ketemu kamu sore ini. Soalnya aku mau packing untuk keberangkatan”
            Untuk kali ini Selasa tidak bisa menahan amarah yang sudah bergejolak. Ia pun meluapkan kemarahannya dengan balasan pesan penuh kemarahan.
“Mau kamu apasih?. Aku gak ngerti sama kamu. Kamu itu dari dulu emang gak pernah berubah, plin plan. Gak tau deh!.”
“Kamu sih bales sms nya lama banget.”
“Aku kuliah, HP ku gak aku bawa”
“Nanti malem jam 7, doain aja gak hujan”
            Selasa begitu kaget melihan isi pesan yang dikirim oleh Ahmad. Selasa tidak menghiraukan janji bertemu itu. Dengan kesalnya Selasa membalas pesan tersebut.
“Kamu itu memang gak berubah dari dulu. Sms ngomong nya nanti malem jam 7 ketemu, setelah itu sms lagi gak jadi ketemunya,aku berangkat jam 7 malem nanti. Tidak cukup sebatas itu, sms lagi nanti sore kita ketemu,terus sms lagi aku mau packing.nah sekarang bilangnya nanti malem jam 7. Jadi mau kamu itu apa?.”
            Pesan tersebutnya tidak dibalas oleh Ahmad lagi. Selasa pun mulai merasa membuat kesalahan.    
            Selasa pun menceritakan kejadian itu dengan seseorang, bisa dibilang orang yang sifatnya lebih dewasa dari dirinya. Orang tersebut pun memberikan solusi yang baik. Akhirnya amarah selasa mulai mereda. Selasa pun mengirimkan pesan kembali kepada Ahmad.
“Jadi gimana?.”
“Nanti malem.”
“Jam berapa?”
            Namun pesan tersebut tidak dibalas oleh Ahmad. Selasa pun tidak menghiraukan nya, Ia pun hanya menunggu. Pukul sudah menunjukkan jam 20.02, tetapi Ahmad tidak kunjung datang. Air mata Selasa terus bercucuran. Namun tiba-tiba Selasa dikejutkan dengan sms yang dikirimkan oleh Ahmad.
“Aku uda di depan!.”
“Owh,tunggu!”. Jawab Selasa dengan rasa yang kurang semangat.
            Selasa pun berdandan dengan senatural mungkin. Namun ada dua temannya yang ikut, Kedua temannya itu begitu penasaran melihat sosok Ahmad. Namun mereka tidak sepenuhnya mengikuti Selasa. Mereka bertiga pun menuju arah depan kampus. Disamping itu Selasa Sms-an dengan Ahmad.
“Cepat, aku uda di depan rumah kamu.” Balas Ahmad dengan nada kesal.
“Aku di asrama!.”
“Bilang kalau kamu di asrama, aku uda kerumah kamu.”
“Aku sekarang di halte deket kampus.”
            Tidak lama kemudian Ahmad tiba. Keduanya memasang muka kesal. Namun Ahmad memecahkan suasana tersebut.
“Aku tadi kerumah kamu, mungkin aku sudah salah rumah.”
“Kan aku uda bilang kalau aku di asrama.”
“Kamu gak bilang kok, gak ada kamu sms aku.”
“Ada, mungkin gak terkirim aja.”
            Cukup lama pertengkaran itu terjadi, tidak lupa diselangi dengan suasana hening. Tampak dari kejauhan kedua teman Selasa berjalan kearah mereka. Ahmad pun bertanya dengan Selasa.
“Mereka teman kamu ya?.”
“Iya,teman seasrama aku”. Jawab Selasa.
            Mawar dan Melati pun melewati mereka berdua dengan memperhatikan wajah Ahmad. Tiba-tiba Mawar dan Melati dikejutkan dengan pertanyaan yang dilontarkan Selasa.
“Mau kemana?”
“Mau kewarung.”, Jawab Mawar.
            Sebenarnya yang ada di pikiran Mawar dan Melati adalah tidak mengenal Selasa sama sekali, tetapi Selasa tidak mengetahui hal tersebut.
“Eh,makan yuk!.” Ajak Ahmad.
“Boleh,dimana?”
“Disini aja, nasi goring. Dari pada disini gelap. Tapi kamu aja ya yang makan,aku uda kenyang”
“Kamu gimana sih, makan aja”
            Selasa pun langsung melangkahkan kakinya menuju penjual pecel lele. Ia pun menunggu Ahmad memarkirkan motornya.
“Eh,kamu aja yang pesan.” Kata Selasa dengan malu.
            Ahmad pun memesan satu nasi goreng. Beberapa menit kemudian, nasi goreng pun datang. Dan ternyata nasi goreng yang datang ada dua. Ahmad pun terkejut, namun akhirnya Ahmad pun memakan nasi goreng tersebut. Disela mereka menyantap nasi goreng tersebut, Ahmad menceritakan pekerjaannya.
“Gimana kerjaan kamu?.”
“Lumayam, enak kok.”
            Percakapan mereka pun semakin menarik, tidak ada lagi perasaan kesal satu sama lain. Nasi goreng pun sudah habis. Tetapi mereka tetap share cerita masing-masing. Selasa pun memotong pembicaraan Ahmad.
“Eh, pergi yuk!, gak enak. Orang lain mau makan juga”
“Biarin aja !”
“Tapi kan uda rame nih, kita pergi aja!”
“Ya deh, eh kita ke Alun-alun aja yuk!” Dengan berat hati.
“Yuk..!”
            Mereka pun beranjak pergi dari tempat Pecel Lele. Ahmad bergegas menuju parkiran motor yang tidak terlalu rame. Dengan biasanya Ia menghidupkan mesin motor. Pergerakan motor pun penuh hati-hati, karena jalan menuju ke jalan raya tidak terlalu bagus. Dari kejauhan Selasa sudah menunggu Ahmad dengan motornya di pinggir jalan. Terlihat jelas raut muka Selasa yang begitu senang. Tidak lama menunggu, Ahmad pun tiba. Dengan senang hati Selasa naik ke motor Ahmad. Mereka pun berjalan dengan santainya. Tidak sebatas di tempat Pecel Lele, percakapan mereka pun berlanjut di atas motor.
            Singkat cerita, sudah hampir sampai ke alun-alun, namun mereka tidak sempat mampir, dikarenakan hari sudah cukup larut malam. Selasa pun memberi tahu kepada Ahmad untuk pulang. Ahmad pun mensetujui itu, karena rumah nya cukup jauh. Dan besok juga Ahmad akan berangkat ke Jakarta.
            Pertemuan mereka yang sudah lama dinanti akhirnya bisa terwujud. Namun pertemuan itu tidak terjadi begitu saja. Banyak halangan yang dihadapi oleh Selasa. Air mata nya pun kalau dihitung tidak pernah terhitung berapa banyak jatuh di pipi manis Selasa.
            Ada kata-kata “Kebahagiaan yang benar-benar dikatakan bahagia adalah kebahagian yang didapatkan dari halangan dan rintangan yang diperjuangkan sebelumnya.”
***
Tamat