Senin, 05 Maret 2018

HIANATI (PART 4)

       Setiap hari waktu berjalan dengan semestinya. Tapi hubungan ini gitu-gitu aja tanpa ada perubahan yang signifikan. Sudah lama aku menunggu waktu yang tepat untuk ngomongin masa depan berdua dengannya. Tapi apa mau dikata, kesempatan itu belum ada. Hari-hari berlalu dengan kegalauan yang terus memuncak bagaikan gunung yang mau meletus.
Ku buka aplikasi whatsapp, ku cari nama Sabarina di kontak. Ku klik namanya dan ku ketik pesan yang mau aku kirim.
“Sab, Sabtu/Minggu ini aja ya kita kunjungan ke panti…”
“Terserah kamu aja Yas…aku ikut kamu aja”
“Oke, barang sumbangan anak-anak sudah terkumpul belum dirumah kamu?”
“Belum Yas, katanya yang punyanya Ani besok baru nyampe”
“Oh oke kalau gitu”
“Yas, kapan kita mau belanja sembako untuk sumbangan?”
“Ntar malem Sabtu aja”
“Oke”
Aku sama Sabarina memang punya niat mau nyumbangin apa aja kepanti asuhan. Planning sih uda lama banget, tapi baru sekarang mau terealisasi. Banyak kendala yang kami hadapi, mulai dari waktu kunjungan kapan, barang sumbangan apa aja. Niat sekarang udah bulat banget untuk kunjungan. Gak boleh nunda-nunda niat.
Sudah lama aku ingin bertemu dengan Sabarina. Sebenarnya aku tidak mau ikut campur urusan mereka. Cuma aku kasihan dengan Sabarina, dia orangnya baik banget. Dia gak pantes diperlakukan seperti itu. Kok tega-teganya si Badrol memperlakukan Sabarina seburuk itu.
Jum’at malam pun tiba. Aku siap-siap untuk kerumahnya Sabarina. Ku nyalakan motor dan uuuiiiinngg….motorku melaju dengan semestinya. Kayak hubunganku yang hanya berjalan semestinya. Terlihat rumah Sabarina yang tidak jauh dari jalan raya. Perlahan aku kecilkan gas motor dan mengerem sedikit. Uuhhh…jalan menuju rumahnya tidak mulus sama sekali, jalan becek bebatuan, berlobang, dan bergelombang. Ya tidak jauh beda dengan hubungan aku sama dia. Eh kok dari tadi curcol mulu ya…hehehe.
Setibanya dirumah Sabarina ku langsung mengetuk pindu barengan dengan ucapan salam. Tidak lama menunggu, Sabarina langsung membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Hanya duduk sebentar, kami pun siap meluncur ke mini market dekat rumahnya. Diatas motor aku terus memikirkan bagaimana caranya aku memulai pembicaraan serius dengan Sabarina. Eh, bukannya aku mau nembak ya. Aku normal woy…!. Dengan detak jantung yang berdegup kencang. Lebay. Aku memulai pembicaraan dengan Sabarina masalah Lesi. Tidak berhenti di atas motor aja, sesampainya di mini market kami pun melanjutkan pembicaraan. Alhasil belanja kami malam itu tidak focus. Sebenarnya aku yang cerita ke Sabarina, eh malah Sabarinanya yang jadi curcol. Oke, sebagai pendengar yang baik aku pun mendengarkan cerita Sabarina dengan seksama. Sampai Sabarina nangis saking gak kuatnya untuk cerita. Sebagai teman aku hanya bisa menguatkan dengan bilang sabar ke Sabarina.
Belanja udah selesai. Cus pulang kerumah Sabarina. Setibanya dirumah, Sabarina membuka smartphone nya untuk menunjukkan apa yang dibicarakan Lesi. Sabarina cukup cerdik, ketika Lesi nelpon semua pembicaraannya ia rekam. Uuhh…lama ya rekamannya, kayak hubungan aku yang udah lama tapi ngambang. Entah apa yang Lesi bicarakan, aku hanya mendengar bahwa Lesi dan Badrol sudah pacaran selama dua tahun. Waw, hebat!. Lamaan Sabarina 8 tahun. Sabarina sampai terheran-heran. “kemana aja aku selama dua tahun tidak mengetahui ini? Selama ini aku percaya sama Badrol kalau ia sibuk kerja” ungkap Sabarina dengan suara yang bergetar.
Suasana pun berubah ketika dua kunyuk itu datang, Upin dan Ipin. Yang tadinya menyeramkan kayak dikuburan, sekarang berubah seperti ditaman bermain. Tidak ada lagi kesedihan di wajah Sabarina. Ia mulai tertawa dengan tingkah laku kedua kunyuk itu. Mereka memang bisa merubah suasana menjadi lebih ceria.
Pukul sudah menunjukkan 21:00 WIB, eh tiba-tiba listrik mati. Rencana mau pulang cepat berhubung aku anak rumahan cewek pula jadi gagal total. Lama menunggu listrik hidup kembali, kegelapan malam diisi dengan candaan yang tidak lucu tapi bikin ketawa.  Bingung deh kalian yang baca gimana maksudnya..haha. sudah lama tidak makan mi indomie mentah, akhirnya terwujud malam itu. Dan foto-foto siluet dengan model si Upin mencairkan suasana.
Aku mulai resah dan gelisah menunggu listrik hidup kembali. Akhirnya aku putuskan untuk memberi tahu orang rumah kalau aku belum bisa pulang dikarenakan listrik masih padam. Dan tidak lupa aku tanyakan apakah dirumah juga listrik padam, ternyata sama. Sebelumnya aku sudah menanyakan hal yang sama dengan kakak iparku, eh ternyata dianya tidak ada dirumah.
Waktu sudah sangat larut, akhirnya kakak iparku menghubungiku menanyakan apakah aku sudah pulang atau belum.
“kamu sudah pulang belum?” tanyanya dengan keras.
“belum, masih dirumah teman listrik masih padam” jawabku cepat.
“mau dijemput gak?”
“boleh, tapi aku pake motor sendiri. Nanti ikutin aja dari belakang”
Brum…brum…suara motor yang sudah sangat aku kenali. Bergegas aku keluar rumah untuk memberi tahu kalau aku berada dirumah disamping motornya. Cepat-cepat aku hidupkan motor matic ku, dan pamit ke Sabarina untuk pulang. Dua kunyuk itu kayaknya menunggu sebentar lagi setelah aku pulang baru mereka pulang. Keluar dari lorong rumah Sabarina ternyata listrik sudah hidup kembali. Ya sudahlah…pulang dengan tenang.

***

0 komentar:

Posting Komentar