Senin, 05 Maret 2018

HIANATI (PART 5)

Tilulit…tilulit…nada whatsapp bahwa ada pesan yang masuk. Ternyata dari si kunyuk Upin. “kamu dimana? Aku sudah dirumah Sabarina” . “oh, oke aku segera meluncur” balasku dengan cepat.
Setibanya di rumah Sabarina, sudah ada mobil orange terpakir didepan rumahnya Sabarina. Kemungkinan mobil si kunyuk Upin. Langsung aku buka pintu pagar rumahnya Sabarina, ku parkir motor ku dan langsung ku ketuk pintu rumahnya. Bukan pintu hatinya ya…hehehe. Tok..tok..tok.. “assalamualaikum !” sapaku dengan suara yang lembut.
“waalaikumsalam, masuk Yas” jawab Sabarina sambil membukakan pintu.
“si kunyuk Upin belum datang?” tanyaku heran.
“belum”.
“itu di depan mungkin mobil si kunyuk Upin”.
Ku urungkan niatku untuk masuk kedalam rumahnya Sabarina, ku putar balik badan keluar pagar rumahnya Sabarina. Celingak celinguk ku lihat kearah mobil orange itu. Tlek..pintu mobil depan terbuka, ternyata benar si kunyuk Upin. “Sudah lama ya? Kenapa gak langsung masuk aja” tanyaku kesal. “sudah lama sekali, dari pagi…hehehe” jawab Upin melawak.
Para personil akhirnya sudah datang semua, barang-barang sudah berada didalam mobil. Siap meluncur ke tempat tujuan. “bismillah ya Allah” ucapku didalam hati. “berangkaaat….” Teriak kami semua.
Kegiatan selesai, kami pun kembali kerumah Sabarina untuk istirahat. Kemudian kami berencana untuk makan ceker pedes. “Ulala…sudah lama tidak makan itu” pikirku di dalam hati. Bergegas meluncur ke TKP. Setibanya ke TKP eh ternyata tutup. Kan ngenes…. Tetapi kami tidak abis akal, kami mencari tempat makan lain. Pikiran tertuju ke bakso 5.000 deket lampu merah. “sepertinya tutup” celetuk Sabarina. Dua kali ngenes…hahaha.
“udah kita makan di samping SMP IT aja” usul Yanti.
“ya udah deh kalau gitu
Setibanya disana, tidak menunggu lama langsung memesan menu yang ada. Disela-sela makan, Sabarina menceritakan semua masalah yang sedang ia hadapi. Suara Sabarina sudah mulai berat dan sedikit bergetar. Aku tahu betul bagaimana perasaannya sekarang. Ibu-ibu komplek sudah penasaran sosok si wanita itu, merekapun cek smartphone masing-masing untuk men-stalk wanita itu. Ekpresi mereka pada heran, kesal, marah, campur aduk semuanya. Tidak ada yang bisa kami perbuat, kami hanya bisa menguatkan Sabarina untuk tetap sabar dan semua kejadian ini pasti ada hikmahnya. Sabarina pun mencoba untuk menerima itu semua dengan ikhlas.

0 komentar:

Posting Komentar